Berlindung dibalik Kata “Demi Kebaikan”


Perubahan adalah hal yang wajar dan mungkin tak dapat dihindari dalam hal apapun. Dibalik perubahan – perubahan yang terjadi pasti terselip sejuta alasan yang melandasinya. Diantara sejuta alasan – alasan tersebut mungkin ada yang dianggap wajar dan mungkin juga ada yang dianggap tak wajar.

Saya sebagai seorang yang mungkin bisa dibilang “keras kepala” dalam mempertahankan apa yang saya ucapkan, memikirkan satu alasn yang saya anggap tak wajar. Alasan tersebut adalah alasan yang mengutamakan atas dasar kebaikan kita semua ataupun untuk lebih aman dan tak mau ambil resiko. Mungkin alasan – alasan demi kebaikan sudah sering diudsung orang – orang di negeri ini. Dalam jangka pendek saya rasa alasan tersebut akan sangat bermanfaat dan terasa sekali oleh orang – orang yang terlibat. Akan tetapi saya rasa itu akan menimbulkan danmpak yang sangat buruk, Ini menyangkut sebuah sikap ataupun suatu kebudayaan. kebudayaan dimana seorang dengan begitu saja mengumbar jannji – janji dan dikemudian hari orang tersebut begitu enaknya bilang bahwa apa yang mereka janjikan tak bisa direalisasikan dengan alasan kondisinya sudah berbeda sehingga demi kebaikan janji ataupun kebijakan tersebut harus ditiadakan. Ironis memang. Namun fakta tersebutlah yang sedang berkembang dan saya menyaksikan demgan mata sendiri.

Mungkin bagi sebagian orang ini bukanlah urusan yang perlu dibesar – besarkan, tapi bagi saya ini adalah masalah prinsip. Prinsip dalam hidup. Merekan yang tak mempermasalahkan mungkin lebih cenderung mengatakan bahwa urusan sekarang ya diurus sekarang dan urusan besok bisa diurus besok karena masih ada hari esok. Hal ini memang tak bisa dipaksakan, tergantung orang – oarnag dalam berprinsip dan celakanya lagi, orang – orang di negeri ini saya rasa lebih tertarik dengan alasan demi kebaikan.

Sikap – sikap inilah yang mendasari karakter sesorang. Orang – orang yang lebih cenderung berlidung dibalik kata “demi kebaikan” saya rasa telah menginspirasi seseorang untuk menjadi pengecut karena mereka tak mau ambil resiko. Secara kasarnya mungkin saya sebut mereka bagaikan air diatas daun talas. Merka mudah terombang – ambing tergantung suasana yang mereka hadapi. Hal inilah yang dapat membentuk karakter seseorang. Mungki akan menyebabkabkan orang yang sedang melakukan sesuatu akan meninggalkan apa yang menjadi tanggung jawabnya karena mereka merasa apa yang mereka kerjakan sudah tak sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi. Apa yng mereka hadapi sudah tak sesuai dengan hal yang sedang ng-trends.

Resiko adalah sebuah konsekuensi  yang harus dihadapi ketika kita memutuskan suatu hal. Resiko ini bisa berbuah hal yang baik dan bisa berbuah hal yang buruk. Hal ini tergantung bagaimana kita menyikapinya dan cara kita memandang resiko tersebut. Mungkin kita bisa memnadang resiko sebagai sebuah pembelajaran, kenapa resiko itu bisa terjadi, apa yang telah kita perbuat sehingga resiko itu terjadi.

Tulisan ini hanyalah sebuah opini. Tak ada maksud menghakimi ataupun menyindir orang lain karena mungkin saja penulis termasuk dalam kategori apa yang penulis tulis. Saya mohon maaf apbila tulisan ini tak berkenan bagi orang yang membacanya, tapi saya berharap tulisan ini masih memiliki manfaat yang terasa bagi yang membacanya.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: