Berani Memilih, Berani Berkorban


Sesuatu yang baru tentu akan menginduksi permasalahan – permasalahan yang baru pula, baik itu ke arah yang lebih baik maupun ke arah yang lebih “buruk”. Dengan adanya semua hal tersebut kiat harus benar pintar – pintar mengatur segala siasat agar tak efek buruk itu tak terlalu terasa apalagi sampai sangat merugikan. Mungkin memang sesuatu itu gak terlalu buruk, tapi itu temasuk masalah yang mengusik bagi saya, terutama masalah keuangan.

Masalah keuangan mungkin tak terlalu berpengaruh bagi sebaian besar mahasiswa ITB secara umum, apalagi bagi teman – teman saya yang tergolong menengah ke atas. Namun hal itu tak berlaku dengan saya. Sebenarnya memang tak berpengaruh terlalu frontal, cuma berpengaruh terhadap kebiasaan saya dalam mengatur ulang segala sesuatu tentang distribusinya saja. Sebagai perbandingan, mungkin sebelum saya terjun ke dareah pergaulan saya sekarang, saya masih bisa menyisihkan minimal 20% dari pemasukan tetap yang ada dan dengan keadaan sekarang saya harus “mengoptimalkan” seluruh pemasukan tetap yang ada alias 100% harus siap dikorbankan tanpa menyisihkan untuk cadangan keperluan pribadi.

Banyak faktor yang melatar belakangi masalah ini. Yang pertama tentunya kesibukan dikampus, mungkin dulu ketika saya cuma jadi “orang biasa” dalam satu hari uang 15 ribu sangat mencukupi untuk makan 3 kali sehari. Itu bisa terjadi karena dengan 8 ribu udah bisa makan 2 kali dikosan dengan sistem dikosan yang mendukung dan waktu juga yang mendukung, setiap jam istirahat bisa pulang ke kosan. Akan tetapi apa yang terjadi? hampir tak ada waktu untuk lebih bersosialisasi dengan kosan termasuk warga beserta sistemnya. Selain karena kesibukan akademik yang semakin menjadi – jadi tak lupa kesibukan non akademik yang menjadi tanggung jawab. Terkadang malah harus seharian dikampus untuk sekedar menunggu rapat beserta rapatnya yang menguras waktu atau karena keadaan pergaulan yang meuntut tanggung jawab untuk selalu standby dikampus. Dengan banyaknya waktu yang dikeluarkan dikampus tentunya aka berakibat dalam pengeluaran makan dikampus yang terbilang cukup mahal, apalagi didalam kampus. Mungkin bisa dibilang membengkak 100% persen dibandingkan dikosan. Alasan yang kedua adalah siapa teman pergaulan kita dan apa aktivitasnya. Dengan menjadi salah satu orang penting dikampus, khususnya di himpunan, tentunya kita akan bergaul dengan orang – orang penting juga. Kebetulan orang – orang tersebut mempunyai gaya hidup yang agak berbeda dengan saya sebelumnya, mungkin bisa dikatakan mereka gaya hidupnya gaya kelas atas. Mungkin memang saya orang denagn tipe menyesuaikan keadaan sekitar. Hal itu juga berakibat terhadap gaya hidup saya, apalagi kalau harus berpergian dengan mereka termasuk ketika harus rapat dengan mereka terutama kalau rapat diluar himpunan yang tentunya pasti ditempat makan (sambil makan juga tentunya). Alasan lain mungkin adalahkegiatan yang “harus” diikuti. Dengan posisi yang startegis dihimpunan tentunya menuntut tanggung jawab kita untuk lebih sering ikut banyak kegiatan yang dilakukan himpunan. Tentunya kegiatan itu juga berdampak terhadap keuangan, entah itu emang kegiatannya bertarif ataupun skedar pengeluaran segala sesuatu yang berhubungan dengan transpotasi ataupun sekedar bekal buat kegiatan. Tentunya berakibat terhadap kegiatan bukan??? Akan tetapi saya rasa hal ini taka akan berpengaruh, karena manajemen keuangan saya telah terlatih sejak masa SMP.

Mungkin itu hanya sedikit kerugian kita dalam posisi strategis, terutama dari segi keuangan dan waktu. Akan tetapi dibalik “kerugian2” tersebut tersimpan sejuta manfaat yang terasa bagi saya. Dengan posisi tersebut saya lebih merasa bisa memberikan kontribusi lebih terhadap lingkungan sekitar saya, terutama himpunan saya. Lingkungan dan posisi yang tak pernah saya duga sebelumnya karena motivasi pertama saya masuk himpunan adalah memperoleh fasilitas dan mengikuti arus, sedangkan dengan posisi yang strategis yang sekarang  saya harus memfasilitasi anggota himpunan dan tentunya menciptakan arus buat massa himpunan. Satu kalimat yang harus terus saya pegang adalah “KITA BERANI MENGAMBIL POSISI, KITA HARUS BERANI BERKONTRIBUSI DENGAN SEGALA RESIKO YANG TERJADI”.

 

MARI TERUS BERSEMANGAT BERKARYA DENGAN MENUNJUKKAN SIKAP – SIKAP IDEAL, SEMOGA KITA MERASAKAN DAN MEMBERIKAN MANFAAT YANG TERASA!!!

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: