Kebumen vs Farmasi


Kebumen dan Farmasi, itulah kata – kata yang menggambarkan lingkungan saya. Keduanya sangat berperan membentuk karakter saya sampai saat ini.

Kebumen : Perhimak Bandung – Asrama Perhimak Bandung

Perhimak Bandung adalah teman pertama saya ketika saya sampai Kota Kembang ini. Saya tak punya saudara di kota ini. Dulu saya tak berfikiran untuk kuliah ditempat yang mana ada saudara ditempat tersebut, orientasi saya cuma mencari ilmu ke ‘barat’. Tujuan awal saya adalah UI, namun karena saya ikut bimbingan yang diadakan oleh anak – anak Perhimak Bandung, saya berubah pikiran. Ini bukan karena arahan dari kakak – kakak kelas atau apa, tapi karena kesan pertama. Jujur, kakak – kakak kelas tak ada yang mengarahkan apalagi membimbing, mereka terlihat cuek dan acuh tak acuh, tapi inilah yang menjadi daya tarik buat saya untuk memilih Bandung sebagai tempat kuliah saya. Saya memang lebih suka berada didalam lingkungan ala ‘kota’, dimana orang lebih mengurusi urusan mereka masing – masing, tak terlalu mengurusi urusan orang lain. Beda ketika saya ikut nimbrung ke bimbingan belajar yang diadakan kakak – kakak dari Perhimak UI, walaupun saya hanya berstatus tamu disana, saya lebih merasa dihargai. Namun entah mengapa saya lebih suka kondisi anak – anak Perhimak Bandung. Mungkin ini berhubungan dengan latar belakang saya sendiri, terutama semasa SMP – SMA, dimana saya hidup dipesantren yang notabenenya disebut sebagai ‘penjara suci’ dengan segala aturan yang mengekang, tentunya demi kebaikan. Saya memang tergolong orang yang menjunjung tinggi segala aturan yang ada, dengan kondisi tersebut pergaulan saya didunia luar sangatlah terhambat, tapi disisi lain, mu’jizat itu selalu datang. Semasa SMP saya selalu masuk 10 besar dikelas (kalau tidak salah), bahkan bisa dibilang tanpa belajar, hanya belajar dikelas, karena diluar kelas saya habiskan di ‘penjara suci’ saya. Bahkan, dalam UAN saya mendapat nilai sempurna untuk Matematika. Keajaiban itu tak berhenti sampai disitu, dengan NEM yang mepet saya berhasil masuk SMA terbaik di Kebumen.

Sejak SMA, saya sudah mulai melakukan pelanggaran – pelanggaran, tapi itu tak cukup untuk ‘menghambat’ mu’jizat dari Alloh SWT. Saya sangat bersyukur karena dapat menjalani beratnya masa SMA dibarengi padatnya jadwal ‘penjara suci’. Dengan aktivitas rutin mulai jam 04.30 – 22.00membuat saya hidup dengan penuh perencanaan. Keajaiban juga datang ketika UN dilaksanakan, dengan bekal tak mengerti beberapa mata pelajaran, saya tetap bisa mendapatkan nilai yang merata disemua pelajaran, waalaupun hanya berkisar diangka 8,xx. Samapai akhirnya saya mengelana ke Bandung.

Perhimak Bandung adalah organisasi pertam yang saya dalami, walaupun dengan seadanya. Saya juga tinggal dimarkasnya, yang biasa disebut Asrama Perhimak Bandung, dimana didalamnya juga terdapat keorganisasian kecil, disinilah saya belajar. Karena pengalaman pergaulan saya yang sedikit, Perhimak Bandung menjadi satu – satunya harapan saya utnuk bergaul. Semasa TPB di ITB, bisa dibilang saya tak pernah bergabung dengan anak – anak angkatan. disamping saya bukan orang yang inisiatif, saya merasa gak ada yang peduli dengan saya. Bahkan di angkatan, saya tak merasa ada. Banyak kegiatan yang dilaksanakan, tapi tetap saja saya merasa tak dianggap. Angkatan saya bisa dibilang tak terasa, terutama bagi saya, bahkan sampai sekarang.

Farmasi : HMF ‘Ars Praeparandi’ – ISMAFARSI

Farmasi. Kata yang sulit utnuk diungkapkan. saya pun tak tahu kenapa sekarang ini saya menggelutinya. Entahlah, singkat cerita orang tua saya menginginkan saya kuliah dibidang kesehatan dan saya sendiri pengin terjun ke dunia industri. Saya melihat peluang itu yang terbukan di Farmasi, apalagi di ITB dengan basis Teknik dan Sains yang kuat. Walaupun terkadang merasa menyesal, tapi inilah pilihan saya, saya selalu bilang saya siap menerima segala konskuensi dari apa yang saya perbuat dan putuskan.

Bicara tentang farmasi tentunya tak jauh – jauh dari komunitas – komunitasnya. Komunitas pertama tentunya adalah teman seangkatan. Banyak momen yang dilalui bersama angkatan, tap sampai saat ini saya belum menemukan acara angkatan yang benar – benar berkesan bagi saya, entah itu acara kekeluargaan hasil rancangan angkatan ataupun acara karena kaderisasi dan himpunan. Sebenarnya saya tak merasa nyaman dalam komunitas ini, belum lagi orientasi angkatan yang lebih ke akademik, dimana saya sudah merasa salah jurusan sehingga saya tak terlalu bernafsu mengejar yang namanya Indeks Prestasi. Orientasi mereka jelas terlihat dari visi – misi angkatan yang dibuat dimana salah satu pointnya adalah ‘menyatukan setiap perbedaan dalan satu kesatuan untuk mencapai prestasi’. Saya rasa point ‘menyatukan’ belum didapat sampai sekarang, tapi saya akui prestasi boleh dibilang mentereng utnuk akademik, tapi untuk kekeluargaan nol besar.

Himpunan, komunitas yang tak pernah terpikirkan oleh saya untuk saya geluti. Bukan tak mau bergaul, tapi lebih cenderung isi orang – orangnya yang cuek, tak ada kesan kekeluargaannya. Mungkin emang berbanding terbalik dengan pernyataan saya diatas dimana saya lebih suka lingkungan yang cuek dan acuh tak acu. Entahlah, mungkin karena saya orangnya juga plin – plan. Saya ikut kaderisasi hanya karena banyak yang ikut, ya mengikuti arus saja. Tak ada motivasi untuk berkontribusi lebih lanjut apalagi memberikan manfaat yang terasa bagi semua anggotanya. Tujuan saya hanya satu, terfasilitasi oleh himpunan. Apakah itu saya dapat? Tentu, walaupun kurang terasa, entahlah, saya memang tergolong orang yang mau mengapreasiasi karya orang lain.

Sesudah masuk himpunan, saya masih terbawa arus dengan ikut menjadi Badan Pengurus, tapi disini saya lebih karena ambisi pribadi, cari koneksi farmasi seluruh Indonesia, makanya saya ikut masuk ke Divisi Ismafarsi (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia). Apakh itu saya dapat, saya rasa tidak, apalagi untuk tahun pertama. Setahun berjalan, saya pun tak merasa punya teman. Tapi setelah divisi itu berakhir, saya malah merasa dapet manfaat, mungkin juga karena saya iktu terjebak di kepengurusan wilayah. Entahlah, saya tepa menikmati posisi itu walaupun merasa Ismafarsi itu belum nyata, ada, dan terasa.

Sekarang adalah saatnya menjalankan segala konsekuensi dari keputusan saya. Keputusan saya memilih kuliah di Farmasi ITB dengan akademiknya yang super, keputusan bergaul dengan Perhimak Bandung yang selalu menjunjung tinggi kekeluargaan sampai – sampai melupakan aturan, keputusan untuk terjun ke jajaran pengurus wilayah Ismafarsi Bandung Raya yang makin hari makin tak jelas, serta keputusan masuk jajaran pengurus inti HMF ‘Ars Praeparandi’ ITB dimana harus menghadapi ego masih – masing pengurus inti (mungki juga termasuk saya). Lepas dari itu semua saya tetap berharap saya bisa memberikan manfaat yang terasa bagi orang – orang disekitar saya.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: