Ekspedisi Ujung Genteng


Libur telah tiba…
Libur telah tiba…
Hore…hore…
Hatiku gembira…


Awalnya hanya tawaran dari temen – temen yang saya anggap hanya agak bercanda untuk pergi ke Ujung Genteng, tapi akhirnya serius. Kita berenam Saya, Hubbi, Iceng, Defri, Gazal, Emak, dan Rani, kumpul jam 06.00 di ITB. Pertamanya bingung mau bawa apa aja, 3 hari 2 malam, tapi akhirnya Cuma bawa baju secukupnya (gak menjawab, hahaha). Kalo dirinci – rinci inlah rute perjalanannya :
Kosan – Gerbang Depan ITB
Perjalanan dimulai dari kosan dengan jalan kaki. Mau bawa motor males, daripada ditaruh dikampus harus bayar 3 ribu, mending dikosan gratis, lahian kosan deket. Awalnya mau naek angkot sih, tapi gak beruntung, pas mau naik angkot, angkotnya malah puter balik. Akhirnya ketemu Emak dijalan yang naik motor, numpang deh ampe ITB.
Gerbang Depan ITB – Pintu Tol Pasir Koja
Dari ITB sekitar pukul 07.00 pergi ke jalan layang untuk naik angkot Dago – Caringin menuju Pasir Koja. Dasar anak gak gaul, jadi dalam perjalanan yang berbiaya 4000 terasa agak bingung juga gak tau daerah yang dilalui. Yasudahlah….
Pintu Tol Pasir Koja – Sukabumi
Setelah sampai Pasir Koja sekitar jam 08.00, kita langsung disambut bis ekonomi Hiba Putra. Milih ekonomi biar ngirit katanya, lagian masih pagi juga, jadi gak panas. Di bis aja udah dibikin tegang dengan tingkah sopir + kernet bis, kebut – kebutan kayak tikus dkejar anjing, hahahaha… Belum dengan suguhan ala ekonomi mulai dari pedagang, musik dangdut dengan goyangan khasnya, sampe ‘live music’. Kata temen – temen, lagu dangdutnya bikin cuci otak, hahahaha… kaya NII aja. Terlepas dari kejadian – kejadian yang gak perlu diceritakan selama perjalanan berbiaya 15.000, akhirnya nyampe juga di Sukabumi sekitar jam 12 kurang. Karena lapar, cari makan dulu deh di warung makan padang deket terminal.
Sukabumi – Terminal Lembur Kuring
Seharusnya kalo lewat jalur normal pake dua rute angkot untuk ke terminal, tp seperti biasa di dunia per-angkot-an, pasti banyak tawaran datang, jadi langsung pake satu jalur motong dengan biaya 5000.
Terminal Lembur Kuring – Surade
Sekitar jam 12.15 kita nyampe terminal Lembur kuring dan sholat dulu deh sambil istirahat sejenak setelah perjalanan jauh yang cukup melelahkan. Perjalanan dilanjutkan sekitar jam 13.00 dan inilah perjalannan paling serunya, naik bom-bom elf. Dengan modal 22.000, kita dapat menikmati mobil yang kebetulan shockbekker-nya mati sebelah, kebayang kan. Belum lagi medan yang dilewati sungguh menggila, denagn belokan tajam dan naik – turun ala kondisi pegunungan. Klo yang gak biasa harus pegangan kuat – kuat biar gak kejedut – jedut, dan tentunya minum ant*mo biar gak mabok.
Surade – Ujung Genteng
Sekitar jam 16.00 lebih kita nyampe daerah Surade, karena terlalu sore dan udah gak ada angkot (angkot cuma ampe jam 16.00), akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan nyarter angkot dengan modal 80.000/angkot. Awalnya supirnya agak ‘gila’ dikit karena masih kebut2an dan akhirnya ganti supir satunya. Sekitar jam 17.00 kita nyampe Pondok Adi, tempat dimana kita akan menginap. Setelah urusan penyewaan dibereskan, kita langsung solat dan kemudian menuju pantai yang udah didepan halaman. Tentunya tak lepas dari foto – foto.


Selama di Ujung Genteng
Malam pertama di Ujung Genteng langsung diisi dengan mengunjungi tempat penangkaran penyu. Jaraknya sekita 5 km dari tempat menginap dan kami tempuh dengan jalan kaki, gila lah capeknya, jalan kaki 1 jam tanpa henti, dari jam sekitar 20.00 ampe jam 21.00. Penyu gak terjadwal dalam bertelur, kita baru bisa melihat sekitar jam 01.30, kebanyang kan berapa lama nunggunya. Tapi nunggunya jg gak wasting time banget sih, kita bisa tiduran ditepi pantai dengan pasir putih yang lebut, dibawah lautan bintang dilanging, sungguh pemandangan yang indah. Dengan sedikit obrolan yang asik, waktu berjalan tanpa terasa. Kita baru pulang sekita jam 02.30 setelah puas melihat penyu bertelur dan jalan kaki juga pulangnya karena telah dikecewakan tukang ojek, masa 30.000 sekali jalan per orang untuk jarak 5 km, gak masuk akal. Emang sih tarif normal kata orang2 sono sekitar 50.000 untuk bolak – balik ke tempat penangkaran penyu sampe ditungguin segala, tapi teman2 ternyata lebih memilih jalan kaki lagi. Akhirnya nyampe ke penginapan sekitar jam 4 kurang, ada yang langsung mandi, tap saya langsung tertidur pulas karena kecapean.


Hari kedua saya awali dengan jalan – jalan sepanjang pantai depan penginapan karena yang lain masih tertidur dengan pulas. Setelah mereka bangun dan siap kita pergi menyusuri pantai ke rah sebaliknya dari arah ke penangkaran penyu, menuju daerah hutan bakau. Kami seharian menyusurinya walaupun dibawah sinar matahari yang terik. Jaraknya gak beda jauh tp yang ini gak terlalu terasa capek karena selingan istirahatnya banyak dan tentunya foto2. Ditengan jalan kami bertemu seorang anak yang bernama Malik yang akhirnya kami jadikan sebagai tour guide. Kita baru kembali ke penginapan sekitar jam 16.00.

Malam harinya kita isi lebih dengan ngobrol bareng dipenginapan sambil istirahat. Dan akhirnya saya tidur dikasur dipenginapan berharga 250.000/malam setelah malam sebelumnya tertidur pulas dilantai kayunya. Paginya katanya berencana melihat sunrise ke TPI, tp seperti biasa bangun telat dan gak jadi deh. Paginya diisi dengan siap siap pulang dan sedikit menengok lagi laut didepan penginapan. Jam 08.30-an kita pergi meninggalkan penginapan.

Rute pulang kita awali dengan naik angkot menuju Surade dengan ongkos 8000/orang dan dilanjutkan dengan naik bombom elf. Bombom elf kali ini lebih seru, gak pegangan sama dengan kejedut, gila lah supir kejar setoran ini. tapi yang saya heran orang warga sana terlihat duduk dengan tenang tanpa reaksi, udah biasa kali ya. Nyampe Lembur Kuring kita pergi ke terminal untuk naik bis menuju Bnadung. Kali ini kita pilih bis AC, dan memang terasa lebih nyama karena saya tertidur pulang diperjalanan sampai akhirnya tiba di Pasir Koja sekitar jam 18.00 lebih, dilanjut naek angkot ke ITB.
Dalam perjalanan kita malah merencanakan pergi makan dulu sebelum pulang dan diputuskan makan sefood karena di Ujung Genteng gak sempaet makan seafood, aneh memang. Selesai makan nongkrong dulu bentar sambil menikmati es krim, setelah itu baru pulang. SUNGGUH LIBURAN YANG LAUR BIASA, TERIMA KASIH TEMAN – TEMAN….

About Asyhar


One response to “Ekspedisi Ujung Genteng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: