Lika – Liku Berorganisasi part 1


Berorganisasi bagi saya merupakan hal yang wajib dilakukan setiap mahasiswa. Berorganisasi tak lantas kita menjadi aktivis sejati dikampus karena berorganisasi bisa dilakukan dengan hal – hal kecil dilingkungan terdekat kita, misalnya sekedar di internal himpunan saja. Kegiatannya pun gak harus yang terlihat serius, seperti hanya sekedar menjadi panitia kegiatan – kegiatan internal saja. Hal terpenting dalam berorganisasi ketika masih mahasiswa adalah proses pembelajaran bukan hasil, itu yang sekarang saya pegang. Karena ketika kita berorientasi pada hasil, suatu ketika kita akan menghalalkan segala cara untuk meraihnya tanpa memperdulikan esensi dari sebuah proses belajar berorgansasi.

Ketika kita akan berorganisasi tentunya ada latar belakang yang mendorong kita.  Akan selalu ada banyak cerita dari mulai kita gak kenal organisasi, kenal organisasi, keinginan berorganisasi, sampai nilai ide – ide yang mau dibawa ketika berorganisasi. Saya sendiri termasuk orang yang awam dalam hal organisasi walaupun mungkin sekarang banyak yang bilang saya ini orang sibuk, banyak organisasi yang diikuti. Sejauh ini cuma ada 3 organisasi yang saya ikuti secara jelas, yaitu Ikatan Senat Seluruh Mahasiswa Farmasi Indonesia (Ismafarsi), Perhimak Bandung, dan Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB yang biasa kita kenal dengan HMF ‘Ars Praeparandi’ ITB.

Ismafarsi

Ismafarsi adalah oragnisasi pertama dimana saya menjadi badan pengurus inti, walaupun hanya dalam batas Ismafarsi wilayah, yaitu Bandung Raya (Bandung, Cimahi, Tasikmalaya). Disini pun saya tak terlalu menduduki jabatan penting karena hanya sekedar Staf Ahli Keuangan (Bendahara). Ismafarsi ini saya kenal lewat himpunan karena ketika awal dihimpunan saya magang di divisi Ismafarsi. Awalnya saya sempat alangsung sangat tertarik dengan acara nasionlanya karena saya pikir itu sebuah kesempatan yang langka, tapi saya merasa tak terpanggil. Akhirnya saya jalani apa adanya proses magang tersebut sampai akhirnya di kepengurusan HMF yang baru saya memilih untuk menjadi Manager Divisi Ismafarsi. Kenapa saya pilih Ismafarsi? karena saya tak punya gambaran tentang divisi lain alias gak tahu dan merasa gak dikasih tau. Dengan masuk divisi ini saya mulai ikut pertemuan – pertemuan wilayah sampai akhirnya ikut LKMMF 2, sebuah kaderisasi lanjutan yang lulusannya bisa menjadi pengurus wilayah.

Saya masih ingat betul ketika itu pernah ditanyain mau ikut Munas di Makasar atau tidak oleh korwil Ismafarsi yang sekarang, Patria. Waktu itu jawaban saya adalah tidak. Saya berfikir bahwa saya bukanlah orang yyang akan berkecimpung lebih jauh di Ismafarsi. Sebenarnya pas LKMMF itu ada musyawarah wilayah dimana dilakukan pemilihan korwil yang baru dan saya ditawari teman untuk ikut maju. Saya tau penawaran ini hanya sebatas mencoba karena teman itu pun secara gambalang tak mendukung saya nantinya dengan alasan ada calon yang lebih baik. Namun dengan saya mencalonkan pastinya saya akan menjadi pengurus inti. Saya sebagai orang normal tentu saja menolak dengan tegas usulan itu, saya berfikir itu tak ada gunanya, sama saja dengan penghinaan. Dengan berbagai kejadian akhirnya saya tak ikut maju mencalonkan diri walaupun ada sedikit kata hati saya untuk mencoba.

Dari situ kemudian terjadi pembentukan BPH yang baru dan teman saya lagi – lagi menawarkan saya untuk ikut. namun dia juga bilang dia gak memaksa kalo saya tidak mau, menurut saya itu wajar tapi dalam hati saya kecewa karena saya beranggapan gak ada yang serius untuk memabntu anak – anak HMF untuk aktif di Ismafarsi. Lepas dari itu akhirnya saya ikutan juga mendaftar dan akhirnya saya jadi Staf Ahli Keuangan.

Sebenarnya saya sempat beranggapan bahwa Ismafasri ini adalah organisasi yang luar biasa yang akan sangat menyita waktu saya. Saya beranggapan bahwa organisasi ini sudah ideal. Atas dasar ini juga saya hanya memilih jabatan itu karena menurut saya itu jabatan yang paling gabut wlaupun kenyataannya sampai sekarang jabatan itu yang paling kelihatan kerjanya. Saya mungkin terlau optimis dalam memandang oragnisasi ini, tapi menurut saya ini wajar karena inilah organisasi pertama saya yang saya anggap serius.

Dengan berjalannya waktu sampai rakerwil berjalan saya masih sangat menjunjung tinggi organisasi ini dengan keseriusannya dan ini bertahan sampai beberapa bulan sampai akhirnya saya tak merasa lagi ada keseriusan orang – orang didalamnya dan mungkin juga saya termasuk salah satunya. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor, mungkin banyak orang yang punya kesibukan dikampus masing – masing, termasuk saya walaupun hanya kedudukan saya dikampus hanya sebatas Wakil Ketua Himpunan. Mungkin saya sempet emosi karena apa yang dijanjikan orang – orang penting disini hanya sebatas rencana. Inilah organisasi, sebuah ajang pembelajaran.

Cerita ini bukanlah sebuah cercaan, bukanlah sebuah penyalahan, bukanlah sebuahpembelaan atau apapun itu. Saya menulis ini hanya bermaksud berbagi tentang pengalaman saya tentang perjalanan karir organisasi saya di Ismafarsi. Disini saya harap teman – teman yang membaca tulisan ini bisa memandang isi tulisan ini dari berbagai arah karena menurut saya banyak hal yang bisa diambil dari pengalaman saya. Disini banyak tertanam nilai – nilai dalam berorganisasi. Mari kawan, kita ini mahasiswa, mari kita gunakan pemikiran – pemikiran cerdas kita terhadap sesuatu yang dianggap buruk menjadi sebuah pembelajaran. Kita ini mahasiswa, orang – orang cerdas, jadi jangan sampai ego kita menutupi kecerdasan kita!

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: