Nyate (lagi) bareng Perhimak Bandung


Minggu, 6 November 2011, bertepatan dengan hari Idul Adha 1432 H. Ini adaah kali ketiga saya berlebaran Idul Adha di Bandung dan kali ke empat tak berlebaran Idul Adha di rumah secara berturut – urut. Idul Adha kali ini Perhimak Bandung terbilang cukup sepi karena banyak yang mudik. Saya sendiri memilih untuk tidak mudik karena ingin mencoba beristirahat dari aktivitas kampus yang cukup padat (maklum aktivis himpunan, haha). Seperti tahun – tahun sebelumnya, saya sholat di dilapangan yayasan Al Falah, Dago, deket kosan. Sholat dimulai sekitar jam 06.30 dan diakhiri dengan khutbah sekitar sampai 07.15. Pada malam hari sebelum Idul Adha seperti biasa mengumandangkan gema takbir, ditemani laptop tercinta.

Setelah selesai sholat, aktivitas sehari – hari berjalan normal, hanya kesulitan mencari makan. Bahkan saya gak makan nasi sampai sore hari, males keluar jauh untuk membeli makan. Seperti biasa Perhimak mendapatkan jatah karcis buat ngambil jatah daging kirban, kebetulan kami dapat tiga kupon. Ketika sore menjelang kita mengambil jatah kita dan kebetulan juga dapet jatah tambahan dari pak RT, lumayan jadi dapet banyak. Seperti biasa ada yang menginisiasi dan melakukan langkah nyata untuk bikin sate. Kalau saya hanya ikutan aja, kalau mau bikin sate ayuk aja. Saya pun gak mau pegang – pegang daging untuk memotong atau sekedar menusuknya. Untuk bumbu sendiri, kita dibantu tetangga depan yang punya warung, jadi rasanya cukup terjamin. Saya lebih memilih untuk menggarang sate saja karena gak akan bau daging, tapi malah jadi bau asep sih.

Setelah sate beres digarang, sate dinikmati bersama – sama. Kebetulan ada sekitar 14 orang yang ikut menikmati sate hasil garangan saya. Beberapa sate ada yang terlihat matang sebagian sih tapi itu bukan hasil garangan saya karena saya sempat break untuk sholat maghrib, sehingga digantikan orang lain, hehehe. Pas kita selesai makan – makan ternyata masih ada yang dateng lagi, anggota Perhimak Bandung yang lain sambil membawa daging juga. Akhirnya ada sesi kedua buat nyate lagi. Disini saya memilih tidak ikut lagi karena merasa udah capek. Tapi karena arang yang tersedia juga abis, akhirnya sate – sate kloter kedua yang belum mateng digoreng, hahaha.

Kalau dipikir – pikir kegiatan nyate ini gak berimbang antara hasil yang didapat dan kerja kerasnya. Bayangkan saja dengan mengolah hampir 2 jam lebih, kita cuma bisa menikmati 5-6 sunduk sate. Akan tetapi hasil akhir memang gak selalu menjadi tolak ukur untuk mengerjakan sesuatu. Dibalik kegiatan menyate ini ada kebersamaan yang tak ternilai harganya, kebersamaan sebagai satu Perhimak Bandung yang sungguh terasa dalam hal – hal seperti ini. Akankah saya masih menulis dengan topik yang sama tahun depan? tunggu saja kelanjutannya, hahaha…

About Asyhar


2 responses to “Nyate (lagi) bareng Perhimak Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: