Manusia vs Tikus : Rongga dan Daerah Tubuh


Manusia dan tikus memiliki organ yang membentuk suatu sistem yang letaknya dapat diketahui melalui terminologi anatomi. Pengetahuan tentang letak organ dalam tubuh penting dalam diagnosa awal suatu penyakit. Sistem tubuh membentuk suatu kesatuan yang bekerja sama mencegah terganggunya homeostasis tubuh.

Organ-organ vital pada tikus dan juga pada manusia berada pada tempat yang dinamakan rongga tubuh (body cavity). Rongga ini berfungsi sebagai perlindungan dari gangguan eksternal sekaligus memungkinkan perubahan bentuk dan ukuran organ dalam tanpa mengganggu fungsi organ lain. Tubuh manusia memiliki lima rongga yaitu kranial, spinal, rongga dada/toraks, abdominal, dan pelvic.

Rongga Organ dalam rongga Sistem yang terlibat
Kranial Otak Sistem koordinasi
Spinal Tulang belakang Sistem koordinasi
Toraks Paru-paru, jantung Sistem respirasi, kardiovaskular
Abdominal Lambung, hati , usus Sistem pencernaan
Pelvic Kantong kemih, ureter, uterus, kelenjar prostat, rektum Sistem eksresi dan sistem reproduksi

Tikus tidak memiliki kantung empedu sedangkan manusia memiliki kantung empedu.Anatomi organ yang terdapat pada tikus dan manusia memiliki banyak perbedaan, yaitu :

  1. Tikus (jantan dan betina) memiliki 5 – 7 lobus hati, sedangkan manusia hanya memiliki 2 lobus hati. Hal ini merupakan akibat dari tikus yang tidak memiliki kantung empedu.
  2. Pada tikus posisi ginjal kanan lebih tinggi dari ginjal kiri karena ginjal kiri terdesak oleh lambung yang berada diatasnya, sedangkan pada manusia posisi ginjal kiri lebih tinggi dari ginjal kanan karena ginjal kanan terdesak oleh hati yang berada diatasnya.
  3. Tikus memiliki dua uterus (uterus duplex) di sebelah kanan dan kiri, yang memungkinkan tikus untuk beranak banyak dalam sekali proses reproduksi. Adapun manusia hanya memiliki satu buah uterus yang ada di tengah sehingga tidak memungkinkan melahirkan beberapa anak sekaligus dalam satu kali proses reproduksi.
  4. Tikus memiliki sekum yang besar yang berfungsi untuk destoksikasi karena tikus merupakan hewan pengerat yang memiliki kemampuan makan yang cukup tinggi. Adapun pada manusia hanya memiliki usus buntu yang relatif kecil.

Manusia memiliki sebelas sistem organ (peliput, kerangka, otot, saraf, peredaran darah, limfatik, pernafasan, pencernaan, ekskresi, endokrin, dan reproduksi) yang selalu bekerja sama menjaga suatu keadaan yang dinamakan homeostasis. Tubuh senantiasa melakukan pengaturan homeostasis yang merupakan mekanisme fisiologi untuk mencegah tergangguanya keseimbangan dalam tubuh. Beberapa contoh regulasi homeostasis diantaranya:

  1. Diawali dengan adanya  stimulus berupa adanya pengurangan kelebihan glukosa dalam darah dan penurunan kadar  glukosa darah, misalnya saja  saat kita bolos makan, yang akan menyebabkan sel α dari pankreas mengeluarkan glukagon ke dalam darah. Kemudian glukagon akan menyebabkan hati memecah glikogen dan melepaskan glukosa ke dalam darah sehingga glukosa tubuh bertambah hingga mendekati normal. Selain itu stimulus untuk mengeluarkan glukagon berkurang juga, sehingga glukosa pada tubuh kembali normal.
  2. Kadar normal Ca dalam darah adalah 9-11 mg/100 ml, dan penting juga dalam proses pembekuan darah. Sehingga apabila jumlahnya tidak sesuai dengan keadaan normal, maka akan merusak sistem lain.   Misal, apabila terjadi kekurangan dimana kadar Ca kurang dari 9 mg/100 ml, maka keadaan ini akan merangsang otak untuk sitem endokrin khususnya kelenjar paratiroid untuk mensekresikan hormon paratiroid (PTH) untuk menstimulasikan osteoklas pada tulang agar mampu mencerna jaringan-jaringan dan matriks tulang yang didalamnya terdapat Ca. Dengan begitu, Ca pada matriks tulang akan pecah dan akhirnya masuk ke dalam aliran pembuluh darah. Sehingga, kadar Ca dalam darah kembali normal.
  3. Ketika kebutuhan jaringan akan darah, nutrisi dan O2 meningkat, otot polos yang melingkar yang berada pada capillary bed, yang disebut precapillary sphincter berelaksasi sehingga menyebabkan kapiler berdilatasi dan darah yang dapat masuk meningkat.
  4. Apabila kadar garam lebih dari jumlah normal dalam tubuh dan kurang air dalam tubuh, tekanan osmosis darah akan meningkat. Osmoreseptor pada hipotalamus akan terangsang dan kemudian kelenjar hipofisis akan dirangsang lebih aktif untuk mensekresikan hormon ADH (antidiuretik) untuk meningkatkan permeabilitas tubulus ginjal terhadap air. Kelenjar adrenal (hormon aldosteron) akan kurang dirangsang, maka lebih banyak air diserap dan lebih banyak  ion natrium serta ion kalsium diserap kembali masuk dalam tubuh sehingga tekanan osmosis darah akan turun. Proses ini akan berulang sehingga tekanan osmosis darah pada jumlah normal.
  5. Saat tubuh terkena infeksi bakteri, sel darah putih akan berusaha untuk menghambat pertumbuhan bakteri dengan melakukan mekanisme fagositik. Peristiwa tersebut akan menstimulasi hipotalamus untuk meningkatkan produksi panas pada sel yang menyebabkan demam dan metabolisme tubuh meningkat. Hal itu menyebabkan penurunan jumlah bakteri dalam tubuh semakin cepat.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: