Sistem ISMAFARSI Komisariat ITB


ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) merupakan salah satu organisasi ekstra kampus yang diikuti HMF. HMF sendiri berdiri sebagai komisariat yang dipimpin oleh seorang komsat. Komisariat ini beranggotakan semua anggota HMF. Oleh karena itu, keberadaan HMF di ISMAFARSI itu tentunya harus mewakili anggota HMF sendiri. Dalam hal ini yang punya tanggung jawab penuh sekaligus pemegang kekuasaan eksekutif (HMF) adalah kahim, dimana secara tidak langsung kahim seharusnya wajib ikut ke kegiatan ismafarsi tingkat nasional dan sebagainya. Namun pada kenyataannya keadaan ideal itu tak pernah sesuai dengan kenyataan. HMF sendiri sudah ada pembagian kerja dimana kahim punya direktur untuk jadi perpanjangan tangannya di bidang masing-masing. Dalam hal ini kalau kahim tidak bisa selalu hadir di acara-acara ISMAFARSI, akan diwakilinya oleh direktur. Kalau direktur tak bisa juga, ya sama bawahnya lagi dan seterusnya sampe ke staff divisi. Lagi-lagi hal ini menurut saya hanyalah sebuah keidealan yang sangat jarang terjadi dalam dunia nyata. Menurut pandangan saya hal tersebut memang terjadi secara struktural tapi tidak dalam hal tanggung jawab. Sampai saat ini saya sudah menjadi anggota HMF dan sudah dipimpin oleh 4 kahim yang berbeda walaupun ada yang hanya sebentar merasakannya. Dari situ yang saya rasakan bahwa selama ini tidak ada kahim yang meprioritaskan acara-acara ISMAFARSI sebagai tujuan mereka tapi dari 4 generasi kahim tersebut ada yang bisa memprioritaskan Kongres APPS. Ini sangat menggelikan karena sudah budaya bahwa ‘jalan-jalan’ ke luar negeri itu lebih elegan. Dari 4 generasi kahim tersebut saya juga baru menemukan satu kahim yang benar-benar memberikan pembekalan (ini yang saya tahu). Pada intinya saya hanya bisa bilang bahwa ISMFARSI itu bukan apa-apa di HMF, dimana terkadang saya melihat ada harapan mahasiswa luar terhadap peran HMF yang tinggi.

Kebijakan HMF dari dulu kan mengamanahkan kadiv ISMAFARSI untuk jadi komsat, dengan asumsi mereka tetap dapat mewakili aspirasi HMF di kancah nasional.  Secara ideal, seharusnya kita punya basis masa yang sangat kuat, tapi lagi-lagi itu hanya sebuah keidealan. Yang terjadi adalah orang-orang yang terjun ke ISMAFARSI adalah orang-orang yang tergabung di divisi itu. Para petinggi pun gak terlalu ambil bagian apalagi apara anggotanya, baik yang menjadi BP atau anggota. Sebagai orang yang pernah ambil bagian di ISMAFARSI, memang mungkin saya terbilang cukup sayang sama organisasi ini. Dengan kata lain, saya ingin anak-anak ITB punya peran lebih sebagai salah satu pendirinya. Saya rasa orang-orang yang gak pernah terjun langsung dan ikut mendalami ISMAFARSI hanya akan menertawakan ocehan saya karena orang yang gak kenal ISMAFASRI tak akan pernah cinta ISMAFARSI. Sebagai pengalaman nyata, ketika masih tingkat satu sampai tingkat 2 saya sangat apatis dengan kegiatan-kegiatan himpunan walaupun saya tetap mengikuti proses kaderisasinya karena alasan ikuti arus. Sebagai seorang yang apatis, tentunya saya mengikutinya juga gak serius terbukti saya tercatat sebagai 2 orang terakhir yang dapat ‘tiket’ jadi anggota himpunan karena tak menguasai materi. Namun semua itu berubah ketika saya mengenal dan mempunyai rasa kepemilikan terhadap HMF yang lebih. Hal ini terjadi karena secara ajaib plus aneh saya menjadi korban untuk menjabat sebagai wakil ketua umum. Intinya saya cuma bisa bilang bahwa peribahasa “Tak kenal maka tak sayang” itu benar adanya, dalam artian pengertian kenal itu dalam arti yang sebenar-benarnya.

Wah, jadi ngelantur gini. OK, kita kembali ke topik. Terkada terbesit untuk menjadikan organisasi-organisasi ekstra kampus HMF sebagai Badan Semi Otonom (BSO) dengan harapan mereka bisa punya anggota yang lebih loyal. Namun hal ini akan menyalahi aturan bahwa setiap anggota HMF adalah anggota organisasi-organisasi eksternal. Belum lagi melihat kiprah BSO yang ada di HMF walaupun pernah mengalami kejayaan tapi sekarang bisa dilihat bahwa BSO yang ada telah hancur lebur, Ramnosa telah mati dan POA telah sekarat. Itulah keadaan yang terjadi menurut pandangan saya. So, bagaimana strategi agar komisariat ISMAFARSI di ITB punya basis yang besar?

Berbicara mengenai basis tentunya kita harus sedikit mengenal karakter basis itu sendiri. Selama ini ISMAFARSI dikenalkan ketika kaderisasi yang mana bisasnya diadakan akhir-akhir semester 2. Karena itulah tradisi yang ada di ITB. Disinipun bukan kaderisasi ISMAFARSI tapi HMF secara umum, setelah itu mereka ada pilihan akan aktif dimana. Dengan pola seperti ini dan sistem yang telah saya utarakan diatas maka semakin sedikitlah orang-orang yang mau aktif di ISMAFARSI. Belum lagi kalau ada yang menggalakkan orang-orang untuk aktif di ISMAFARSI akan muncul sentilan “Memangnya mana sih yang kalian bela, HMF atau ISMAFARSI?”. Jelas semakin susah menjawabnya.

Dari hal-hal yang telah saya utarakan diatas, terbesit pemikiran yang mungkin cukup ekstrim yaitu dengan menjadikan anak TPB sebagai basis ISMFARSI atau kalau mau lebih luas bisa menjadi basis organisasi ekstrenal farmasi ITB. Hal ini juga akan menyetarakan posisi dengan anggota ISMAFARSI luar ITB dimana mereka bisa ikut aktif dari tahun pertama. Apakah ini menyalahi AD/ART? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Dalam AD/ART disebutkan bahwa walaupun tanpa menjalani kaderisasi mahasiswa TPB tetap anggota pasif HMF (bukan anggota aktif), dimana sebenarnya mereka boleh mengikuti kegiatan-kegiatan HMF. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa mereka juga boleh ikut acara-acar ISMAFARSI walaupun dalam hal bicara mereka masih ada ganjalan. Akan tetapi mereka tetap bisa lebih cepat memahami ISMFARSI sehingga ketika tahun kedua atau pasca kaderisasi HMF sudah terbentuk kader-kader yang benar-benar layak dan banyak untuk terjun di ISMAFARSI. Kendala utamanya menurut saya cuma satu ada kemungkinan akan ada kader-kader yang akan terlanjur cinta ke ISMAFARSI darpada HMF, dengan kata lain sentilan “Memangnya mana sih yang kalian bela, HMF atau ISMAFARSI?” akan semakin jelas terasa.

Semua pilihan memang ada resiko, ini kembali ke keinginan semua massa kampus. Kalau memang ego kita terhadap salah satu pilihan saja, khususnya HMF. Mungkin perlu dikaji keanggotaan kita di ISMAFASRI. Kalau keberadaan HMF hanya sebatas anggota tanpa peran nyata terkadang saya ingin kita keluar saja dari ISMAFASRI. Sebagai catatan, program kerja yang diusung oleh divisi ISMAFARSI adalah mengikuti program kerja Wilayah atau Nasioanal, dengan kata lain divisi itu sebagai formalitas. Saya minta maaf kalau ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini, mungkin memang saya termasuk orang-orang yang pedas dalam berkata, tapi sebenarnya cuma satu yang saya inginkan dari tulisan ini, saya ingin HMF punya peran lebih dalam keanggotaannya di ISMAFARSI.

About Asyhar


2 responses to “Sistem ISMAFARSI Komisariat ITB

  • aris

    saya mahasiswa farmasi dari universitas airlangga, juga merasakan hal yang sama seperti anda. Ismafarsi disini seperti diberi jarak dengan BEM, sehingga ismafarsi sulit untuk berkembang

    • Asyhar

      salam kenal….
      mudah2an ke depannya bisa lebih baik lagi…
      alhamdulillah disini sudah terlihat cukup membaik, mudah2an disana juga bisa terus membaik, aaminn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: