Word No Tobacco Day : Hentikan Campur Tangan Pelaku Industri Tembakau


Hari ini, 31 Mei adalah hari anti tembakau se-Dunia atau biasa kita kenal dengan Word No Tobacco Day. Tembakau masih menjadi tantangan dunia kesehatan, khususnya dalam bentuk rokok. Tantangan ini gak hanya data dari satu pihak saja tapi banyak pihak karena emang banyak kepentingan. Banyak pihak yang terlibat dalam masalah ini, mulai dari masayarakat, praktisi kesehatan, praktisi industri tembakau, sampai pemerintah. Mungkin banyak hal yang sudah dilakukan yang melibatkan masyarakat dan praktisi kesehatan. namun sampai saat ini terbilang masih percuma karena dukungan advokasi ke pelaku industri tembakau dan pemerintahnya terbilang sangat lemah. Coba kita lihat kutipan berikut.

Phillip Morris, sebuah perusahaan rokok besar milik amerika kini tiba-tiba merambahkan sayapnya ke Indonesia, dengan membeli saham milik perusahaan PT.HM Sampoerna.Kehilangan target pasar di Amerika, menyebabkan perusahaan ini bergani alih target pasar di Indonesia. Hingga saat ini Pemerintah di Negara-negara bagian Amerika telah mengeluarkan berbagai peraturan ketat yang mematikan perusahaan-perusahaan rokok di Amerika, Phillip Morrislah salah satunya, lalu bagaimana dengan Indonesia?

Setiap kita jalan pasti menemukan iklan rokok. Setiap kita liat TV pasti liat iklan rokok. Olahraga pun banyak yang disokong perusahaan rokok, begitu pula acara-acara musik. Perusahaan rokok juga memberikan beasiswa, apakah kalian termasuk yang dapet kesempatan belajar karena rokok?

Begitu bebasnya perusahaan rokok di Indonesia, dan anehnya pemerintah dengan santainya membiarkan kapitalis-kapitalis raksasa ini menjajakan racun kepada rakyatnya, dan hasilnya para pemilik perusahaan ini untung besar. Tiga dari pemilik perusahaan rokok telah masuk ke dalam jajaran 10 orang terkaya di Indonesia, Rudi Hartono (Djarum Super), Rahman Halim (Gudang Garam), Budi Sampoerna (Sampoerna). Bukankah sudah menjadi tugas Negara untuk menyehatkan rakyatnya?

Banyaknya pecandu rokok di Indonesia merupakan simbol kelalaian Negara dalam mengatur persahaan-perusahaan rokok di Indonesia. Iklan-iklan rokok beredar dimana-mana dan pada akhirnya merokok menjadi budaya bagi bangsa Indonesia.

Lalu kenapa hal ini masih terjadi? Banyak kemungkinan tentunya. Diantara banyak kemungkinan, salah satu yang paling login adalah keterlibatan pelaku industri tembakau dalam terbentuknya aturan ataupun perundang-undangan tembakau di negara ini. Mungkin sekarang, pilihan terbaik untuk menekan bahaya akan rokok adalah menghentikan interferensi pelaku industri rokok. Hal ini sesuai tema yang dibawa WHO tahun ini.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: