Farmasi Pedesaan XIV : Membuka Mata Beredukasi di Masyarakat dan Mengedukasi Masyarakat


Tak terasa setelah 2 tahun yang lalu menjalani Fardes XIII, akhirnya masih diberi kesempatan melihat perkembangannya lagi di Fardes XIV. Saya beserta 3 teman saya dari angkatan 2008 (Fakar, Hubbi, dan Fiki) ikut mengunjungi adik-adik kami yang sedang mejalani Fardes XIV di Kidang Pananjung, Cililin, Bandung Barat. Kami datang di hari terakhir, hari jum’at pagi, 6 Juli 2012 dan pulang bersama mereka di hari sabtunya. Kami ke sana  dengan bermotor ria dan itu menjadi pengalaman pertama bagi saya, dari mulai menaklukkan tanjakan salam ganesha sampai menuruni jalan bebatuan yang terasa begitu licin bagi motor yang saya kendarai.

Sekitar jam 09.30 kami sampai di lokasi, kami langsung menengok acara Pesta Rakyat yang diikuti RW 1, RW 2, dan RW 3 yang terpusal di RW 2, tepatnya di SD Walahir. Disitu sudah ramai dengan anak-anak dan beberapa orang tua. Sebelum acara dimulai kami memutuskan untuk mengunjungi aktivitas di RW lain, tepatnya di RW 4. Disana kami menemui adik-adik kami yang sedang publikasi untuk acara pesta rakyat juga yang berpusta di RW 4 dan diikuti RW lainnya yaitu, RW 5 dan RW 6. Selain itu kami juga mengunjungi sekelompok lainnya yang sedang melakukan Farmasi Mengajar (Fajar) di musholla setempat.

Menjelang sholat jum’at kami memutuskan untuk melihat kondisi RW lainnya sekalian sholat jum’at disana. Tepatnya kami mengunjungi RW 1 yang merupakan kawasan tertinggi. Kami sempat berjalan-jalan mengelilingi RW satu untuk mencari sumber air dan masjid untuk sholat jum’at. RW 1 ini terkenal dengan sulitnya sumber mata air. Selain karena merupakan daerah dataran yang lebih tinggi, hal ini juga dikarenakan sedang musim kemarau. Selain itu, sebenarnya kami juga ingin melihat Biogas yang dibangun di RW 1 ketika Follow Up Fardes XIII. Tapi kami tak melihatnya dari dekat tapi cukup dari agak dekat.

Dari semua aktivitas yang kami lakukan di atas banyak banget yang saya lihat pesan-pesan yang tersampaikan, khususnya untuk saya sendiri. Masyarakat Dsisana sangat menghormati para tamu termasuk kita. Hal ini terbukti mereka rela memberikan air yang mereka susah payah dapatkan untuk kita whudu. Mereka juga sangat ramah dengan menyapa kita setiap kita lewat. Dari semua yang saya alami, saya merasa bahwa masyarakat Kidang Pananjung pada umumnya sangat membuka diri menerima kita. Mereka sudah mencoba membuka diri, mereka menunggu reaksi dari kita dan saya rasa mereka tentunya menunggu reaksi positif dari kita. Reaksi yang kita anggap positif belum tentu positif dari mereka karena latar belakang kita berbeda, itu yang harus kita tekankan. Kita harus memahami kondisi mereka karena kita disana bertujujuan untuk mereka. Ini titik penting ketika kita ingin belajar di masyarakat, belajar memahami kondisi terlebih dahulu sebelum ke arah tindakan lebih lanjut.

Setelah sedikit beristirahat di RW 1 kami memutuskan untuk kembali ke RW 2 untuk melihat aktivitas Pesta Rakyat yang kami rasa sedang berlangsung. Kami melihat keceriaan anak-anak disana, begitu juga beberapa orang tua yang terlihat sangat antusian membimbing anak-anak dalam menjalani beberapa rangkaian acara Pesta Rakyat. Tak puas melihat Pesta Rakyat di RW 2, kami bertolak ke RW 4 yang juga menjadi pusat Pesta Rakyat untuk RW 4, RW 5, dan RW 6. Disini acara terlihat lebih rame. Saya melihat warga begitu larut dalam acara yang difasilitasi teman-teman panitia Fardes XIV.

Menjelang maghrib, ada 4 orang alumni yang turut mengunjungi Fardes XIV. Disini terbukalah obrolan bersama alumni yang menurut saya harusnya cukup membuka mata bagaimana cara kita beredukasi masyarakat dan mengedukasi masyarakat. Sebagai contoh kecil adalah bagimana kita ‘melarang’ masyarakat yang membeli obat-obat paketan yang tersedia diwarung-warung. Masyarakat sudah terbiasa dengan itu. Ketika kita melarang, kita harus punya solusi aplikatif, misal menyediakan stok multivitamin untuk mengganti penggunaan obat paketan yang biasa orang gunakan untuk mengatasi pegal-pegal. Tentu saja ini gak semudah yang kita bayangkan, selain kita menyediakan dalam jangka panjang, kita juga harus memantaunya secara kontinyu. Kita tak akan pernah berhasil kalau kita Cuma mengantarkan mereka ke pintu gerbang perubahan, kita harus tetap membantu mereka menuju pusat perubahan sehingga mereka sudah terbiasa ketika nantinya kita tinggalkan. Mungkin obrolan seperti ini sudah sering disampaikan oleh senior-senior dikampus, namun kadang kurang bisa diterima, entah kurang gigih penyampaiannya entah karena faktor penyampai.

About Asyhar


2 responses to “Farmasi Pedesaan XIV : Membuka Mata Beredukasi di Masyarakat dan Mengedukasi Masyarakat

  • rahmah

    salam kenal.. saia rahmah
    saat ini lagi pendidikan profesi apt. di itb.
    mau tanya nih mas.
    kalo mau ikut partisipasi dalam kegiatan ini gimana caranya?
    kebetulan pendidikan S1 saia bukan di itb.

    • Asyhar

      salam kenal juga…
      makasih sudah berkunjung.

      Sejauh ini, Fardes merupakan program himpunan untuk memfasilitasi anggotanya yg tertarik terjun dalam bidang pengabdian masyarakat. Kalo mau berpartisipasi sebagai peserta atau panitia mungkin belum bisa tapi mungkin saja ada peluang ssebagai rekanan kerja. Fardes ini acara 2 tahunan, jadi baru akan ada lagi tahun 2014, tapi selama satu tahun kedepan insyaalloh bakal ada Follow Up Fardes XIV ini tapi kegiatannya gak sepadat acara Fardes nya sih. Kalo memang tertarik nanti mungkin bisa dibicarakan dg panitia mungkin saja ada celah untuk bergabung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: