Tantangan Ramadhan di Perantauan


Bulan ramadhan kali ini adalah ramadhan keempat yang sebagian besar saya lalui di Bandung. Syukur Alhamduliillah salah satu rutinitas ibadah saya masih dipermudah Alloh SWT. Di kota Bandung ini saya masih bisa menemukan jama’ah sholat tarawih yang paket 20 rakaat + witir, dimana sebagian besar yang saya temui lainnya adalah paket 8 rakaat + witir. Lebih bersyukurnya lagi adalah jama’ah tersebut dilakukan di masjid dekat kosan saya. Sholat tarawih paket 23 adalah apa yang diajarkan orang tua saya, lingkungan saya, dan tempat saya belajar agama. Semua konsep ataupun dasarnya saya rasa saya sendiri kurang cakap bisa menjelaskan tapi semua itu mungkin terpaparkan dengan jelas dalam situs resmi NU.

Bulan ramadhan bagi saya begitu spesial karena mengingatkan saya untuk memperbaiki kedisiplinan saya. Sebisa mungkin saya membiasakan disiplin adalah dengan sholat tarawih berjamaah dimasjid terdekat. Disiplin mengerjakan sholat tarawaih paket 23 rakaat, yang mana kadang timbul rasa ‘iri’ dengan orang-orang yang hanya paket 11 rakaat, entah karena keyakinan mereka atau karena kemalasan mereka. Alhamdulillah, saya rasa 80-100% untuk tantangan sholat tarawih berjalan lancar selama 4 tahun terakhir. Adapun tantangan terbesar saya selama 4 tahun terakhir sebenarnya lebih ke membaca Al Qur’an karena selama tiga tahun terakhir saya tak pernah mengkatamkan satu Al Qur’an selama bulan ramadhan karena berbagai alasan. Walaupun begitu saya tetap mencoba membaca semaksimal mungkin. Disiplin lain yang saya dapat adalah ketepatan waktu dalam sholat, khususnya sholat ‘isya dan shubuh. Sholat ‘isya karena bebarengan jama’ah sholat tarawih sedangkan sholat shubuh karena bangun sahur. Sahur sendiri juga membiasakan diri untuk bangun malam walaupun kadang baru tidur jam 23.30-01.00 WIB.

Sebenarnya hal yang terpenting dari semua itu keberlanjutannya di 11 bulan setelah ramadhan nanti. Mudah-mudahan semangat kedisiplinan tersebut masih terus terjaga dalam mengarungi perjuangan 11 bulan sebelum kedisiplinan  diatur dengan aktifitas ramadhan. Akan tetapi semua itu tentunya harus dimulai dari ramadhan terlebih dahulu. Ketika dalam bulan ramadhan sudah terjada kedisiplinannya, tentu saja menjaga kedisiplinan dalam aa bulan selanjutnya akan terasa jauh lebih mudah. Tetap semangat dan sabar adalah kunci untuk mendapatkan manfaat yang terasa dari semua pembelajaran, taufik dan hidayah selama bulan ramadhan.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: