Lebaran dan Pantai


Lebaran selalu punya tradisi tersendiri di Indonesia. Setiap daerah pasti punya rutinitas tersendiri kala lebaran tiba, tak terkecuali di daerah asal saya, Kebumen. Setahu saya orang-orang di Kebumen akan merasa belum lengkap sebuah lebaran kalau belum berkunjung ke pantai, maklum Kebumen merupakan salah satu daerah yang berbatasan langsung dengan samudera Hindia disebelah selatan. Ditempat saya, tepatnya desa Lembupurwo, kecamatan Mirit, punya salah satu lokasi pantai yang menjadi pusat kunjungan beberapa desa sekitar. Pantai ini dikenal dengan pantai Rowo. Pada dasarnya pantai ini hanya menjadi pembukan dan penutup lebaran yang penentuannya ditentukan denga hitungan kalender jawa yang saya sendiri kurang paham. Pembuka sendiri dikenal dengan grebeg udunan, sedangkan penutup dikenal dengan grebeg syawalan. Grebeg udunan biasanya ini dimulai H+1 atau H+2 idul fitri dan grebeg syawalan dilaksanakan satu minggu setelahnya.

 

Gambar 1.1 Bergaya di pinggir pantai Rowo

Momen ini selain sebagai ajang liburan juga dimanfaatkan sebagai ajang bersilaturahmi karena kadang dengan berkunjung ke pantai akan mempertemukan sahabat lama ataupun keluarga ‘jauh’. Orang-orang bisa datang dengan keluarga besarnya yang kebanyakan perantau atau bersama sahabat yang terpisah juga karena daerah rantauan yang berbeda. Semua berkumpul melepas kangen sambil menikmati desiran ombak yang menggelegar serta pasir hitam yang membentang luas.

Gambar 1.2 Hamparan pasir hitam pantai Rowo

Gambar 1.3 Gulungan ombak pantai Rowo

Sekarang ini pantai Rowo terlihat lebih hijau dengan adanya pohon-pohon cemara yang ditanam sepanjang pantai oleh teman-teman mahasiswa dari Jogja. Penanaman ini dimaksudkan untuk menjaga ekosistem pantai. Setiap grebeg pantai yang ramai tentunya dimanfaatkan para pedagang untuk mendulang rezeki. Baik warga setempat dan luar desa maupun luar kecamatan berbondong-bondong mendirikan warung-warung dadakan dipinggir pantai. makanan yang akan selalu ada antara lain adalah pecel dan sate. Sate sendiri merupakan salah satu ikon makanan kebumen, khususnya yang dikenal sate ambal yang punya cita rasa khas yang saya rasa tak akan dijumapi didaerah lain, baik dari segi rasa maupun sambalnya.

Gambar 1.4 Hamparan kali Buntu
Gambar 1.5 Kali Buntu

Gambar 1.6 Kali Buntu dengan matahari yang baru terbit

Seiring dengan berkembangnya zaman, tentunya akan membuat orang-orang makin kreatif memanfaatkan peluang. Selama ini salah satu orang-orang ke pantai adalah untuk mandi di laut, tak terkecuali anak-anak. Namun kadang hal ini dirasa kurang aman untuk keselamatan anak-anak sehingga memunculkan ide untuk membuat kolam renang dadakan dipinggir pantai. Selain itu, para nelayan juga memanfaatkan perahu-perahu mereka untuk memanjakan pengunjung untuk sekedar mengitari sungai yang ada disekitar pantai.

Gambar 1.7 Hamparan pasir miring dipinggir kali Buntu
Gambar 1.8 Sisi lain kali Buntu
Gambar 1.9 Terowongan menembus cemara menuju bibir pantai Rowo

Gambar 1.10 Penampakan pohon cemara

Gambar 1.11 Hamparan rerumputan disisi bibir pantai dan pohon cemara

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: