Pembentukan Opini Publik : (Rohis) Pola Rekrutmen Teroris Muda (?)


Beberapa hari ini kita (khususnya umat muslim) digemparkan dengan isu yang dihembuskan salah satu stasiun swasta Indonesia. Dalam tayangannya mereka memaparkan sebuah alur pola rekrutmen teroris muda dengan jelas, yaitu :

  1. Sasarannya siswa SMP Akhir – SMA dari sekolah-sekolah umum
  2. Masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah
  3. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudia diajak diskusi di luar sekolah
  4. Dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa yang korup, keadilan tidak seimbang
  5. Dijejali dengan doktrin bahwa penguasa adalah toghut/kafir/musuh

dari pemberitaan ini memang mereka tak menyebut Rohis secara tersurat. Namun melihat kondisi yang ada Rohis lah yang menjadi sasaran dimana Rohis merupakan ekstrakurikuler di SMP-SMA. Bahkan saya bisa katakan tak pernah menjumpai ekstrakurikuler lain yang berbau agama kecuali Rohis. Tentu saja hal tersebut mengundang kecaman dari berbagai pihak. Dunia maya disibukkan dengan adanya ketidak puasan atas tuduhan tersebut. Mereka menganggap para jurnalis sudah tak beretika dalam membentuk opini publik. Bahkan beberapa orang mengangap bahwa pemberitaan-pemberitaan yag disampaikan oleh stasiun televisi swasta ini hanya memperkeruh kondisi stabilitas nasional. Terlebih mereka tidak mengimbangi pemberitaan buruk terhadap pemerintah dengan keberhasilan pemerintah.

Saya pribadi sebagai seorang muslim punya pemikiran tersendiri terhadap isu ini. Sebagai seorang muslim saya sangat tak suka dengan pemberitaan ini karena secara tidak langsung mereka menjelekkan Islam. Saya sendiri bukanlah anak Rohis, bahkan bisa dibilang saya adalah orang yang ‘menghindari’ Rohis. Ini saya lakukan karena saya merasa tidak sepaham dengan Islam yang saya dapatkan di Rohis SMA dengan Islam yang saya dapat dilingkungan saya. Memasuki dunia kuliah saya juga sempet ingin bergabung dengan ‘Rohis’ kampus, namun lagi-lagi saya tak menemukan kecocokan sehingga saya memilih untuk mundur. Sekali lagi saya bukan anak Rohis tapi saya juga tak terima kalau anak Rohis itu calon teroris. Saya memeang berteman dengan anak-anak Rohis dan sampai sekarang pun saya belum pernah menemukan teman saya yang dulu aktif di Rohis ketahuan jadi teroris.

Saya memang tahu anak-anak Rohis tak hanya berdiskusi di dalam sekolah tapi mereka juga diajak berdiskusi diluar sekolah tapi yang saya tahu diskusi mereka masih seputar akidah. Mereka tak dijejali kondisi sosial dan penguasa yang buruk. Saya ‘mengindar’ dengan Rohis pas SMA karena saya punya pendirian, bukan karena menganggap mereka teroris. Saya punya lingkungan Islam. Dilingkungan ini kami juga sudah di ‘doktrin’ untuk tak menerima yang aneh-aneh. Berhati-hati dengan Islam yang menurut kami tak lazim.

Mungkin memang saya punya pengalaman tersendiri tentang doktrin bahwa penguasa adalah toghut/kafir/musuh. Hal ini terjadi ketika jaman kuliah. Saya memang gak mau ‘terlibat’ dunia agama yang yang berkembang dikampus karena saya merasa beda pemahaman. Saya ‘lari’ karena saya merasa belum kuat untuk melawan arus. Namun disisi lain saya juga masih diskusi seputar masalah keagamaan, khususnya dengan golongan teman yang masih sepaham. Sampai pada akhirnya saya berdiskusi dengan teman yang mengaku pernah sepaham dengan saya. Dia mengajak saya untuk berdiskusi dengan temannya yang berasal dari dunia luar kampus. Pada awalnya memang saya ingin melihat mungkin saya menemukan jaringan yang sepaham. Satu ai pertemuan masih ok karena juga masih sebatas perkenalan. Pertemuan kedua saya mulai merasa aneh dengan apa yang mereka sampaikan yang pada intinya mereka menjuruskan untuk kita berpendapat bahwa apa yang terjadi sekarang ini salah. Pertemua ketiga masih sampai berlangung tapi saya sudah merasa gerah dengan apa yang disampaikan. Saya tak bisa menyangkal karena apa yang mereka sampaikan adalah ayat-ayat Al Quran. Saya pribadi merasa ada yang salah dengan pemahaman mereka tapi saya juga tak ada keberania untuk membantah dan berdebat. Pada akhirnya itu menjadi pertemuan terakhir dan saya memutuskan untuk tak menjadwalkan pertemuan rutin lagi.

Pengalaman ini memang mengindikasikan adanya doktrin yang tak bagus tapi juga tak ada bukti bahwa mereka benci pemerintahan. pada intinya adalah kitalah yang harus waspada sebagai orang muslim. Ketika kita menekukan hal-hal yang menurut kita salah kita harus menjauhi itu. Kita harus tegas dengan masalah agama karena agama adalah masalah keyakinan kita. Islam adalah agama yang terbaik dan tersempurna yang Alloh berikan untuk umat manusia. Kita wajib mencari tahu apa yang tidak kita tahu tapi kita wajib berhenti mencari tahu lebih mendalam ketia kita menemukan sebuah kejanggalan.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: