Kilas Balik Zaman Pendidikan Sarjana


Selama 4 tahun lebih, mulai Agustus 2008 – Oktober 2012, saya menjalani pendidikan di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Masuk ITB mungkin bukanlah cita-cita awal saya karena ITB sudah saya coret dari daftar perguruan tinggi yang saya minati sejak kelas 1 SMA. Alasannya? Jelas, karena ITB terlalu elit buat saya dan temen-temen saya yang dari sekolah pinggiran. Sampai kelas 3 SMA pun belum ada niat mau ke ITB, niat saya cuma mau kuliah didaerah barat, entah UI entah STAN, seperti kebanyakn impian teman-teman satu SMA kala itu.

Ketika itu ada program bimbingan belajar yang ditawarkan kakak-kaka kelas dari Perhimak UI. Sebenarnya saya sangat tertarik untuk ikut apalagi UI menjadi salah satu pilihan saya. Namun ada perasaan ragu apakah saya akan diterima seleksianya karena jumlah peminatnya juga sangat banyak dan saya bukanlah dari golongan orang yang pandai disekolah. Ditengah kebimbangan akhirnya ada teman yang menawari untuk ikutan bimbingan belajar dari Perhimak Bandung. Dengan pertimbangan tanpa seleksi dan jumlah yang dibimbing lebih sedikit saya memutuskan untuk ikut teman-teman yang kira-kira cuma berjumlah 12 orang.

Kesan pertama lihat kampus adalah kampusnya kecil, orangnya cukup cuek dan terlihat eksklusif. Tiga hal inilah yang kemudian menarik minat saya untuk memantapkan kuliah di ITB. Alasannya utama adalah saya gak perlu beradaptasi lagi dengan sebuah kecuekan. Kecuekan saya mungkin sangat kentara sampai tahap TPB selesai. Cuek saya sebenarnya bukanlah tidak peduli tapi saya minder karena latar belakang saya. Saya sebenarnya memimpikan sesuatu kesempatan yang teman-teman tawarkan dibandingkan menawarkan diri. Namun tawaran saya rasa tak pernah datang dengan serius atau mungkin memang saya yang belum terlalu peka untuk beradaptasi di dunia pergaulan ITB.

Tujuan saya kuliah adalah saya pengin kerja di industri. Sarananya adalah masuk Teknik Industri, saya sudah try out untuk masuk teknik industri di UGM dan UI tapi gak masuk. Kemudian orang tua nyaranin untuk masuk bidang kesehatan dan jurusan yang pertama kali saya tolak adalah kedokteran. Pertama karena masalah biaya dan kemampuan otak saya yang berlebihan terhadap dunia kedokteran. Saran orang tua adalah masuk Kesmas tapi saya tolak karena jurusan itu kebanyakan cewek (treus ternyata Farmasi juga banyak ceweknya #salahpersepsi). Akhirnya entah dari mana datangnya ilham itu, saya kepikiran masuk Farmasi. Pilihan ini adalah jawaban atas minat awal saya dan keinginan orang tua.

Zaman kehidupan sarajana adalah salah satu momen perubahan dalam hidup saya dan mungkin terbilang cukup terlambat. Dari berbagai tingkatan ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat.

Tahap Persiapan Bersama (TPB)

  • Orang yang pertama kali saya ingat mukanya adalah Angga dan Defri, bahkan merasa bahwa dua orang itu mirip.
  • Saya gak tahu kebiasaan anak ITB, awal-awal agak sering diajak belajar bareng, tapi sering juga nolak. Alasanya gak logis yaitu karena saya merasa gak menguasai materi dan gak percaya dengan mereka.
  • Saya adalah anak yang susah ngapalin nama teman satu angkatan, termasuk ketika dituntut oleh sistem kaderisasi.
  • Saya salah orientasi standar akademik karena salah pergaulan.

Tingkat Dua-Tingkat Tiga

  • Mulai merasa susah kuliah di farmasi, khususnya di ITB.
  • Masa suram akademik di mulai di semester ini.
  • Banyak yang merasa salah jurusan tapi bagi saya ini salah satu jalan meraih cita-cita.
  • Akademik belum juga membaik, malah menjerumuskan diri dalam dunia himpunan.
  • Awalnya gak serius dan gak percaya bisa terlibat sejauh itu di himpunan yang notabene-nya saya bukan anak organisasi dikampus maupun di SMA/SMP.
  • Berawal dari megikuti trend masuk kepanitiaan, berlanjut jadi pengganti PJ divisi Acara sebuah event terbesar himpunan, Fardes XIII.
  • Mulai merasa nyaman dengan dunia himpunan dan menikmati indahnya bersosialisasi dan mencoba memperbesar zona zaman saya.
  • Dengan dorongan faktor eksternal yang gak ada hubungannya sama himpunan, entah mengapa ‘terjerumus’ nyalon jadi ketua umum himpunan.
  • Semua orang bilang saya nyalon karena bagus di Fardes, tapi bagi saya itu bukanlah faktor utama karena ada faktor non teknis lain yang lebih kuat.
  • Tentu saja saya kalah karena latar belakang saya dan karena semua massa himpunan gak wajib datang hearing.
  • Resiko ikut nyalon adalah dikasih jabatan yang cukup tinggi, wakil ketua umum. Disinilah saya mulai menjalani sisi pergaulan lain dan membuat saya lebih melek arti bersosialisasi baik karena kritik dari orang lain maupun kesadaran diri menanggapi semua peristiwa yang saya alami.

Tingkat 4

  • Merasakan efek paling berharga dalam menjalankan sebuah organisasi, disini saya paham bagaimana pengalaman dan ketegasan seharusnya harus ditonjolkan.
  • Saya sebenarnya memang tak punya pengalaman tapi seharusnya saya punya ketegasan.
  • Masalah ini menimbulkan momen yang saya rasa tak akan terhapus dala memori. Hal yang terpenting adalah saya sudah berani melangkah dan saya berkesempatan nelajar langsung dari pengalaman yang saya lakukan sendiri. Ini menjadi batu loncatan untuk saya agar lebih baik dan lebih bijak menjalani kehidupan.
  • Sempat bermasalah dengan akademik lagi dan mengkambing hitamkan organisasi sebagai salah satu penyebabnya. Walaupun hati saya menghingkari hal itu namun alasan sebenarnya gak mungkin saya ungkapkan.
  • Perjalanan TA berjalan sesuai rencana dan saya cukup puas dengan apa yang saya lakukan.
  • Lulus Oktober dengan kegiatan ngelab yang sudah berakhir jauh-jauh hari sebelumnya menjadi lebih menarik menikmati hari-hari menjelang seminar dan sidang.
  • Target lulus tak terpengaruh dengan antusiasme yang tinggi dari temen2 angkatan untuk lulus Juli.
  • Saya bangga menjadi bagian Octopus 2012, lebih sedikit orangnya, lebih terasa kebersamaannya dan lebih terasa pula kekompakannya.

Pendidikansarjana ini seolah telah melebarkan zona zaman saya. Kadang saya berfikir betapa bodohnya tindakan-tindakan yang dulu saya lakukan. Saya gak pernah berani untuk terlibat lebih jauh terhadap suatu kegiatan di masa lampau walaupun kadang kesempatan nempel didepan mata. Namun kemudian terlintas pemikiran bahwa telah ada pembelajaran yang saya ambil ketika sudah bisa menilai ada kesalahan terdahulu. Pembelajaran dari pengalaman gak akan pernah diperoleh tanpa keberanian mencoba. Ya, jangan pernah takut memulai sesuatu yang berbeda ketika kita punya alasan dan tujuan yang kuat dan benar.

About Asyhar


4 responses to “Kilas Balik Zaman Pendidikan Sarjana

  • anonim

    Hai kak, saya kebetulan kelas 3 sma dan niatnya mau lanjut ke sf itb.
    tapi kok baca blog nya kaka jadi ragu ya hehe.

    bukan masalah berat kuliahnya, tapi sosialnya.. kok kayanya dari beberapa post selain post ini, kesannya anak farmasi maniak nilai&belajar banget, individual dan ansos.

    apalagi di kalimat kakak yang ini : “Saya gak tahu kebiasaan anak ITB, awal-awal agak sering diajak belajar bareng, tapi sering juga nolak. Alasanya gak logis yaitu karena saya merasa gak menguasai materi dan gak percaya dengan mereka.”
    sebenernya saya ga begitu paham maksudnya, bisa nyerna dikit sih tapi kok kayanya kejam bgt ya ._.

    mohon di bales ya ka. thanks🙂

    • Asyhar

      terima kasih sudah berkunjung dan sebelumnya saya minta maaf kalau tulisan saya ini malah membuat kamu ragu.

      jadi anak farmasi itu gak hars maniak nilai dan gak harus ansos belajar, apalagi individualis. sifat2 seperti itu saya rasa ada di setiap jurusan tapi gak harus sebegitunya jg kok, contohnya ya saya
      krn kamu gak mempermasalahkan akademik jd saya bahas sosialnya aja ya. kehidupan sosial yg saya alami mungkin lebih karena latar belakang saya. kalo dr kalimat itu, ya mungkin krn saya orangnya kalau udah gak mau ya gak akan mau. pas itu saya merasa gak cocok secara akademik dengan mereka yang ngajakin saya dan saya orangnya bukan yang seneng belajar bareng2, itu aja sih.
      sebenarnya secara sosial asik kok di itb, mulai dari golongan anak perpus, anak dosen, anak himpunan, anak sosialita, anak kemahasiswaan, dll semua ada di itb karena memang difaslitasi. tinggal pilih aja sejak awal mana yang cocok dengan kamu. kuncinya adalah tujuan kamu masuk farmasi itu apa dan jangan sampai mengesampingkan kehidupan kampus selain akademik, hehe

  • Fadjri

    Apa bener ya kak anak SF ITB itu kebanyakan cewek, dan apakah saat SNMPTN undangan lebih mementingkan cewek daripada laki-laki, tolong di jawab ya kak🙂

    • Asyhar

      iya, SF ITB itu kebanyakan cewek tapi semua jurusan farmasidi Indonesia emang kebanyakan cewek, bisa 1:3 untuk cowok:cewek
      sepengetahuan saya sih gak ada teorinya SNMPTN lebih mentingin cewek, semua tergantung kemampuan (nilai)
      jadi SF ITB/farmasi lain banyak cewek ya karena peminatnya jg didominasi cewek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: