Escape from Bandung : Objek Wisata Dieng Plateau Wonosobo


Escape from Bandung adalah sebuah perjalanan 4 orang (Saya, Hubbi, Manda, Fitri, dan Laras) untuk berkelana ke Bandung-Wonosobo-Kebumen-Cirebon selama kurang lebih 5 hari 6 malam. Selasa, 18 Desember, sehabis ashar kami memulai perjalanan  dari Bandung menuju Wonosobo. Kami berkumpul di MCd Simpang Dago untuk bergegas ke terminal Cicaheum dengan modal 4rb rupiah. Seperti biasa di kehidupan terminal yang penuh dengan tarik ulur, kami terdampar di bis Sinar Jaya untuk melanjutkan perjalanan ke Wonosobo. Mereka memasang tarif 60rb untuk mengantarkan kami ke terminal Mendolo selama kurang lebih 7 jam. Mungkin di sana banyak daerah yang namanya Dieng atau entah para pencari bahkan yang agak seenaknya, kami terbawa bis dan nyasar ke Kretek dan menguras uang sebesar 5rb. Namun Alloh Maha Baik karena kami malah dijamu di salah satu rumah warga untuk sekedar istirahat, ngeteh pagi, dan tentunya sarapan gratis.

Pintu Gerbang Objek Wisata Dieng Plateau

Sekira jam 6.30 kami melanjutkan perjalanan ke kota Wonosobo untuk selanjutnya langsung menuju Dieng dengan ongkos 2rb dan 10rb. Perjalanan cukup asik dengan kabut yang menyelimuti jalanan dan sekira jam 11 kami sampai di Dieng. Selanjutnya kami mencari penginapan untuk beristirahat dan menaruh barang. Disana sangat banyak home stay, tapi kami memilih home stay bu Djono yang ditarif 100rb/kamar. Setelah menaruh barang bawaan yang cukup berat kami jalan-jalan di sekitaran Dieng menuju lokasi percandian, tepatnya adalah komplek Candi Arjuna. Puas berfoto-foto di daerah percandian ini kami melanjutkan perjalanan ke kawah Sikidang. Keduanya dipaket dengan tarif 10rb. Ketika datang ke kawah ini kabut sangatlah tebal sehingga kawah sulit terlihat, belum lagi ditambang dengan bau sulfur yang cukup menusuk dan lebih tajam dari bau di kawah putih yang ada di Bandung. Sebenarnya ukuran kawahnya sangatlah kecil, kira-kira hanya sebatas luas kolam Indonesia Tenggelam yang ada di kampus kami. Walaupun begitu saya tetap mendekat ke sumber kawah yang berhasil melihatnya dengan sangat dekat, airnya kecoklatan dan mendidih di berbagai titik. Selanjutnya kami pulang menuju penginapan sembari melihat pasar yang ada disekitar kawah yang khas dengan berbagai barang khas Dieng.

Kawasan Candi Arjuna

Kami melanjutkan perjalanan menuju tempat berikutnya yaitu Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Dengan tarif 6rb kami dapat melihat kedua telaga tersebut dengan berbagai gua yang ada di daerah sekitarnya, termasuk Gua Pengantin dan Gua Jaran. Ketika ditempat ini kami terjebak hujan yang cukup deras sehingga menambah dinginnya cuaca yang memang sudah dingin. Airnya pun berasa air es ketika kami mengambil air wudhu untuk sholat. Kami menjadikan mushola kecil yang ada disana sebagai basecamp menunggu hujan reda sambil menikmati cemilan dan bermain kartu. Setelah hujan agak reda kami melanjutkan jalan-jalan di daerah sekitar sambil melanjutkan berfoto-foto sebagai kenangan. Sebelum pulang ke penginepan kami menyempatkan makan ditempat tersebut karena perut yang memang sudah lapar dan tentunya berharga mahal karena itu tempat wisata.

Komplek Telaga Warna

Kompleks Wisata Telaga Warna
Telaga warna
Penampakan Telaga Warna

Selanjutnya dengan kabut yang masih tebal dengan angin yang masih aduhai kami menerobos jalan yang seolah-olah tanpa ujung. Hal ini memang dikarenakan kabut membatasi jarak pandang yang hanya berkisar 5-10 meter saja. Dengan adanya kabut ini malah membuat perjalanan semakin asik dan tentunya asik juga buat berfoto-foto. Sekira setelah 1 Km berjalan, akhirnya kami sampai ke penginapan. Perjalanan dari Penginapan – Kompleks Candi Arjuna – Kawah Sikidang – Telaga Warna – Penginapan kurang lebih berjarak 6 Km dan itu semua kami jalani dengan jalan kaki. Saya sendiri cukup kewalahan karena semalam tidak cukup nyaman berada di bis yang membawa kami dari Bandung ke Wonosobo.

dari telaga warna
Perjalan dari Telaga Warna

Sebelum beristirahat, kami pergi makan ke warung sebelah dekat penginepan, entah apa namanya (lupa), setelah sebelumnya pergi ke Indomart untuk re-stock perbekalan. Capek perjalanan gak membuat kami ingin mandi karena memang gak berkeringat dan memang suhu gak mendukung. Jadi kami cuma bebersih diri, sholat, dan ngobrol sambil maen kartu menunggu agak malam sebelum tidur. Tentunya semua perjalanan dan kegiatan seharian ini dibarengi dengan berbagai candaan sehingga perjalanan lebih berwarna dan yang lebih penting adalah saya sebagai pewarnanya karena saya bukan objek pembulian. Sekira jam 9 malam kami pergi ke kamar tidur untuk beristirahat setelah sebelumnya memesan tukang ojek untuk mengantar kami ke puncak Sikunir guna menikmati sunrise. Dengan keahlian menawar saya kami berhasil menurunkan harga dari 30rb ke 20rb untuk setiap ojek.

Paginya, sekira jam setengah 4 kami bangun dan bersiap-siap ke bukit Sikunir, sekira 20 menit ngojek kami sampai ujung desa tertinggi di pulau Jawa, yaitu Desa Sembungan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sekira 1 Km dengan jalanan yang menanjak dan cukup licin. Saya harus mengimbangi perjalanan cewek yang tentunya cukup kesulitan dengan medan yang cukup terjal ini. Sebenarnya jalan ini cukup tertata dengan rapi tapi mungkin karena musim hujan sehingga agak licin dan berbahaya dengan samping berupa jurang dan bebatuan. Sekira jam 5 kurang kami sampai ke tempat untuk memandangi sunrise yang terlihat malu-malu untuk muncul. Ternyata tempatnya gak sesepi yang saya kira karena berbagai wisatawan baik lokal maupun mancanegara ternyata ada disini. Sampai ditempat seperti ini tentunya gak akan lepas dari foto-foto dengan berbagai kenarsisan. Hembusan angin disini cukup kencang sehingga menambah dinginnya udara yang memang sudah begitu dingin. Ketinggian bukit Sikunir ini sebenarnya memang hanya sekitar 2.263 m. Sekira satu jam setengah di atas bukit Sikunir kami turun ke bawah menuju Danau Cebong yang ada disekitar perpakiran sambil ngobror melepas lelah menggelar ponco dipinggir danau. Setelah itu mampir menikmati cireng sebelum turun ke bawah menikmati alam desa dan perbukitan di desa Sembungan. Mungkin biasanya kalau kita berada didaerah pegunungan yang kita lihat di kanan-kiri kita adalah pohon teh namun disini, sejauh mata kita memandang yang terlihat adalah pohon kentang yang kadang terlihat pohon wortel.

20122012816

Penampakan Sang Empunya

20122012815

Suasana Bukit Cikunir

20122012814

Sunrise Bukit Cikunir

Sunrise

Sunrise Bukit Cikunir

20122012819

Penampakan Danau Cebong

Untuk sampai ke bawah, kami harus berjalan sekira 7 Km. Kami mengambil pilihan dengan jalan kaki untuk menikmati perjalanan walaupun harus capek. Hal yang kurang dalam perjalanan ini adalah saya lupa bawa kwaci sebagai teman perjalanan. Dalam perjalanan kami melihat kawah yang kemarin kita kunjungi dan memang kawahnya cukup kecil dan kali ini tak tertutupi oleh kabut sehingga terlihat dengan jelas. Sekira jam 9 pagi kami sampai ke penginepan dan langsung makan di warung mak Yati. Selesai makan kami beberes diri dan tak lupa memaksakan untuk menikmati manti di tempat ini. Sekira jam 11 kami turun ke Wonosobo untuk melanjutkan perjalanan ke tempat berikunya yaitu Kebumen.

Kawah SikidangKawah Sikidang

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: