Karakter = Golongan Darah (?)


Dulu kita mengenal ramalan zodiak, shio, tanggal lahir, dan lain sebagainya. Sekarang ini sedang berkembang ‘dunia ramalan’ dengan latar belakang golongan darah. Hasil ‘ramalan’ ini dianggap lebih representatif karena berbasis ilmiah. Kenapa? Katanya sih golongan darah itu ditentukan oleh protein-protein tertentu yang membangun semua sel di tubuh kita dan oleh karenanya juga menentukan psikologi kita. Menurut buku yang ditulis oleh Tosshitaka Nomi seorang berkebangsaan Jepang dari bukunya yang berjudul “Touch My Heart” yang di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dijelaskan bahwa ternyata golongan darah itu mempengaruhi karakter seseorang.

Sekarang banyak sekali berbagai gambar ataupun kartun, video, maupun artikel yang membahas karakter berdasarkan golongan darah. Kadang ketika kita dengan bersosialisasi dalam kehidupan ada saja yang suka nyeletuk, “#harapmaklum dia kan golongan darah A/B/AB/O”. Ini akan menjadi sebuah sarana pembulian baru yang seolah-olah dibenarkan secara ilmiah. Kadang kita mengeluhkan si A yang terlalu ribet dengan urusan yang detail. Kadang kita suka mengeluhkan si B yang suka memberontak dengan aturan. Kadang kita suka mengeluhkan si O yang sok bijak tapi ujung-ujungnya suka marah-marah. Ataupun kadang kita suka mengeluhkan si AB yang terlalu aneh-aneh. Mungkin yang lebih parah adalah nasib si AB. Dengan populasi yang kira-kira hanya 4% dari penduduk bumi, mereka dianggap sebagai golongan darah terburuk di Jepang (negara yang mendengung-dengungkan ramalan berdasarkan golongan darah).

Secara ilmiah, mungkin sekarang kita tak bisa membantah hasil penelitian tersebut. Namun apakah itu representatif untuk seluruh dunia? Saya pribadi mengatakan tidak sama sekali. Menurut saya golongan darah memang berperan dalam pembentukan karakter, tapi yang paling utama adalah masalah bagaimana pembelajaran itu dijalankan dalam membentuk karakter. Kebudayaan dan lingkungan menurut saya tetaplah yang terpenting dalam membentuk karakter seseorang. Apapun golongan darahnya, mereka dapat menunjukkan karakter terbaiknya jika ditempa dengan cara yang benar dengan lingkungan yang nyaman. Pembentukan karakter dapat diperoleh dari pengalaman, pengalaman hidup, pengalaman organisasi, pengalaman bersosialisasi untuk saling memahami. Mungkin mereka sekarang sedang dalam keadaan ‘terburuknya’ tapi tentu saja akan ada pembelajaran yang mereka ambil untuk menjadi lebih baik. Apapun golongan darah kita, pedoman etika (khususnya agama) yang menuntun perilaku kita.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: