Kesan Kuliah Apoteker


Tak terasa kuliah pendidikan profesi saya sudah selesai. Kuliah yang ‘hanya’ 2 semester yang masing-masing isinya ‘cuma’ dua bulan. Waktu yang terpakai sama-sama padat kayak jaman S1, bedanya kalo jaman S1 pagi kuliah sorenya praktikum. Adapun kalo kuliah profesi mau pagi mau sore sama-sama kuliah. Mungkin sistem pendidikan di ITB sedikit berbeda dengan universitas lain walopun saya gak tau persis yang lain isinya gimana (saya tetep yakin beda). Kuliah di ITB itu ‘cuma’ saling tuker materi yang gak didapat di S1 aja. Yang tadinya jurusan FKK harus masuk PF, yang STF harus masuk PPM. Anak-anak PF dapet materi STF yang gak didapet anak PF selama S1. Adapun anak-anak PPM sebaliknya, dapet materi FKK yang gak didapet anak STF selama S1. Namun sepertinya sistem ini akan segera berakhir karena kurikulum 2013 akan segera diterapkan sebagai kurikulum yang baru. Dalam kurikulum baru, katanya yang mantan FKK akan memperdalam materi FKK di PF dan yang mantan STF juga memperdalam materi STF di PPM.

Sebagai anak PPM, saya harus menambal materi yang gak saya dapet  di FKK yang khususnya terangkum dalam kuliah Farmakoterapi dan Pelayanan Farmasi. Sebagai anak yang bercita-cita terjun diindustri tentunya saya berfikir bahwa ini gak terlalu penting untuk saya pelajari lebih lanjut. Namun kenyataannya dalam peraturan yang ada, apoteker di Indonesia tidak dikotak-kotakkan. Semua apoteker bakal dipandang bisa punya kompetensi di semua bidang, baik pharmaceutical care (pelayanan), industrial pharmacy (industri), maupun pemerintahan. Oleh karena itu mungkin ITB membentuk sistem yang demikian.

Kadang saya malah iri dengan temen-temen PF yang mendapatkan materi Teknologi Sediaan Farmasi (TSF) dan Farmasi Industri. Mereka ‘disuapi’, pengetahuan pegembangan formulasi dan gambaran peranan apoteker dalam dunia industri secara mendetail. Mereka juga diberikan kuliah Sistem Manajemen Mutu yang cukup membahas tentang berbagai standar pengujian mutu. Mungkin harusnya ini yang membangkitkan jiwa seorang apoteker yang harus long life learner. Jiwa harus di latih dengan kemauan kita menuju apoteker yang ‘beneran’ dan mau berusaha belajar mandiri.

Ada juga beberapa materi yang sama-sama didapet baik PPM maupun PF. Kita sama-sama dapet materi Peraturan Perundang-Undangan Farmasi & Etika Profesi serta Ilmu Komunikasi guna mengawal dan menunjang implementasi keilmuan farmasi yang telah kita dapatkan. Dalam pemerintahan Indonesia yang menjunjung tinggi hukum, profesi apoteker juga didukung dan dibatasi oleh berbagai aturan guna memaksimalkan peran dan menghindarkan penyalahgunaan wewenang. Semua itu juga harus dibarengi dengan etika profesi yang sejalan dengan peranan farmasi buat kesehatan masyarakat. Dalam bekerja kita tidak hanya berhubungan dengan produk obat, maupun mesin. Kita juga berhubungan dengan pasien (terutama yang terjun di bidanng pelayanan dan komunitas) dan SDM lain sehingga kemampuan komunikasi yang efektif harus dikuasai.

Baik PPM maupun PF juga mendapatkan kuliah Integrated Dispensing (ID) dan Manajemen Farmasi. dalam kuliah ID kita dituntut dapat menggabungkan kemampuan dan pengetahuan kita dalam berbagai hal, mulai dari keilmuan farmaseutik, farmakoterapi, ilmu komunikasi, kemampuan meracik, peraturan perundang-undangan, sistem standar mutu, dan lain sebagainya. Di sini kita diuji untuk mengintegrasikan kemampuan dan pengetahuan kita untuk siap terjun dalam dunia ‘hitam’ farmasi. Kita juga di tempa untuk menjadi seorang entrepreneurship dengan penekanan penerapan sistem manajemen yang baik guna meraih sukses. Lebih ditekankan lagi kita didorong oleh salah satu dosen guna ‘menguasai’ dunia apotek. Kita didorong membuka sistem apotek jaringan dimana apoteker selain sebagai APA juga harus sebagai pemilik apotek. Kita dididik mulain dari bagaimana cara menentukan lokasi, analsisis market, manajemen keuangan, dan lain sebagainya. Hal ini semata-mata guna memegang kewenangan profesi apoteker guna mengoptimalkan peran dalam meningkatkan kualiatas kesehatan dan hidup manusia.

Kita juga diberi berbagai kuliah yang lain, seperti Distribusi Rantai Pasok (DRP), Negotiation Skills, dan berbagai kuliah tamu masing-masing kuliah yang ada dari para profesional bidang industri, pelayanan, komunitas, dan pemerintahan. Dalam kuliah DRP diberikan materi gabungan dari dosen Farmasi dan dan Teknik Industri sehingga memberikan pengetahuan yang terintegrasi.. Seoarang apoteker juga tak akan lepas dari dunia bisnis sehingga diberi bekal kemampuan bernegosiasi yang mumpuni dengan adanya kuliah yang didatangkan dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB. Kuliah lain dari profesianal farmasi juga turut memberikan bagaimana pengetahuan ‘putih’ farmasi diimplemetasikan dalam lapangan ‘hitam’ dunia kerja farmasi.

Alhamdulillah kuliah selama 2 semester beserta pembelajarannya telah berakhir, PKPA di industri juga telah saya jalani. Minggu depan tinggal mengintip dunia farmasi yang lain dengan PKPA Pemerintahan dan Apotek. Setelah itu baru deh menjalani puncak sensualitas pendidikan profesi apoteker ITB dengan ritual ujian selama 1 bulan sehingga layak disumpah sebagai seorang apoteker. Mudah-mudahan saya tetap konsisten dengan langkah yang saya ambil dan saya jalani. Mudah-mudahan ilmu yang saya dapet selama ini juga nantinya bermanfaat buat saya pribadi dan bagi orang lain. Mudah-mudahan jalan menuju gelar Apoteker nanti juga dipermudah oleh Alloh SWT, aamiin.

About Asyhar


4 responses to “Kesan Kuliah Apoteker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: