Sumpah Apoteker: Adakah Ketidaktepatan?


Salah satu poin penting dalam kode etik apoteker adalah menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah apoteker/farmasis. Berikut adalah lafal sumpah/Janji apoteker berdasarkan PP No. 20 tahun 1962 pasal 1:

  1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan;
  2. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai apoteker.
  3. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakkan pengetahuan kefarmasian saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
  4. Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian;
  5. Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik keparataian, atau kedudukan sosial;
  6. Saya ucapkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan.

Terkait adanya sumpah tersebut saya teringat dengan komentar dosen pembimbing PKPA saya, yaitu pak Sundani. Dalam teks sumpah tersebut, setidaknya ada tiga poin yang beliau soroti. Pertama, disebutkan bahwa apoteker akan merahasiakan segala sesuatu yang diketahui karena pekerjaan dan keilmuan sebagai apoteker. Hal ini mengundang pertanyaan terkait salah satu peran apoteker dalam menjalankan konsep Pharmaceutical Care. Dengan adanya bunyi teks yang demikian, seolah-olah apoteker dilarang berkonsultasi dengan pasien terkait penyakit dan obat. Lalu tercetus pula dalam benak saya bagaimana para apoteker yang berprofesi sebagai dosen, apakah tidak boleh menceritakan sesuatu yang bersifat ‘rahasia’? Dalam implementasinya, tentunya bukan hal semacam itu yang dimaksudkan tapi kalimat itu seolah-olah menimbulkan kerancuan.

Kedua, dalam teks disebutkan bahwa apoteker tidak akan mempergunakkan pengetahuan kefarmasian saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan. Dalam ilmu hukum hanya dikenal adanya hukum pidana dan perdata. Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan hukum perikemanusiaan? Apakah ada yang namanya hukum perikemanusiaan? Padahal disebutkan bahwa PP 20/1962 tentang LAFAL SUMPAH JANJI APOTEKER ini telah diperdengarkan kepada Menteri Kehakiman pada saat itu. Apakah yang dimaskud adalah asas kemanusiaan?

Ketiga, dalam teks disebutkan bahwa pengucapan sumpah/janji dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan. Dengan adanya kata-kata ‘penuh keinsyafan’ kata dosen saya menggambarkan seolah-olah seorang apoteker telah melakukan sebuah dosa besar sebelum disumpah sehingga dalam harus dilakukan dengan penuh insyaf. Lalu apakah yang dimaksud dengan kata ‘penuh keinsyafan’? Apakah yang dimaksud adalah dengan penuh kesadaran?

Demikian beberapa poin dalam teks sumpah/janji apoteker yang dosen saya soroti dan saya sampaikan dengan bahasa saya dengan pemahaman yang saya tangkap. Perlu diketahui bahwa teks tersebut dibuat pada tahun 1962 sedangkan kita ketahui bersama bahasa Indonesia telah beberapa kali mengalamai tahapan penyempurnaan. Lalu apakah kata-kata dalam teks tersebut masih selaras dengan pengertian sekarang dengan adanya tahapan penyempurnaan tersebut? Lalu apakah teks tersebut terkait dengan perkembangan peran apoteker? Kita ketahui bahwa pada tahun 1960-an, Farmasi Klinik, Consulting dan Dispensing baru mulai berkembang. Itupun di dunia, apakah di Indonesia sudah sejauh itu? Lalu apakah perlu dilakukan penyesuaian teks berdasarkan perkembangan bahasa dan perkembangan peran apoteker di Indonesia?

Sumpah apoteker merupakan hal kecil dan yang lebih penting adalah bagaimana peran apoteker itu sendiri di masyarakat. Namun, sumpah apoteker ini menjadi landasan para apoteker dalam bertindak. Dalam pedoman etika pun ini menjadi poin pertama yang harus dijunjung, dihayati dan diamalakan. Jika apa yang kita jadikan patokan ternyata adalah sesuatu yang salah, lalu bagaimana dengan percabangannya? Lalu jika timbul sesuatu yang menyimpang dan kita akan melihat dasar yang kita pakai dan ternyata dasar itu salah, apa yang akan terjadi? Sebagai seorang calon apoteker ataupun sebagai apoteker, kita harus sadar dan tanggap terhadap hal-hal kecil disekitar kita sebelum kita ‘berimajninasi’ dengan peran yang lebih besar dan nyata. Semoga tulisan ini bermanfaat.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: