Trip To Sukabumi: Curug Cikaso, Cibuaya, dan Pantai Pangumbahan


Liburan bisa datang kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja. Kali ini saya bersama anak-anak Perhimak Bandung (Mas Iref, Mas Ali, Mas Fuad, Untung, Nunu, Aji, Madun, Afif) berkunjung ke Sukabumi dengan tujuan utama kami adalah Curug Cikaso dan Pantai Ujung Genteng beserta penangkaran penyunya. Perjalanan tak jauh beda dengan pengalaman saya sebelumnya, bedanya dulu naik transportasi umum dan sekarang naik mobil pribadi. Sensainya pun kurang lebih sama. Berangkat dari Bandung sekira jam 10 malam kami sudah menikmati Curug Cikaso pagi harinya. Sebenarnya sangat jarang saya mabuk perjalanan, tapi kondisi badan ditambah AC yang aneh serta jalanan yang berliku cukup mengalahkan saya untuk memuntahkan isi perut. Mau gak mau dimenhidrinat jadi andalan untuk mengatasinya.

Curug Cikaso

Curug Cikaso ini ada di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Kalo dihitung-hitung jarak tempuh sekitar 8 kilometer dari Surade, 15 kilometer dari Jampang Kulon, 30 kilometer dari Ujunggenteng, dan sekitar 110 kilometer dari Kota Sukabumi. Perjalanan kami menuju Curug Cikaso diawali dari kota kecil Surade dengan kondisi jalan yang berliku dan beraspal cukup baik. Dari parkiran kita cukup jalan kaki menuju TKP melewati pematang sawah, disaranin buat gak naik perahu karena memang udah deket.

Curug Cikaso lagi

Dari beberapa butir curug yang pernah saya kunjungi, ini merupakan yang terbesar dan terderas. Ada tiga aliran air berjejer dengan di bagian bawahnya terdapat kolam dengan warna airnya hijau kebiru-biruan.  Kedua titik air terjun dapat terlihat dengan jelas sedangkan yang satu agak tersembunyi dengan tebing yang menghadap ke timur.  Masing-masing air terjun mempunyai nama masing. Yang kiri bernama Curug Asepan, tengah bernama Curug Meong dan kanan bernama Curug Aki. Awalnya gak mau nyebur tapi karena nyebur gak nyebur celana juga basah, jadilah nyebur dan berkelana di bawah pelangi yang terbentuk diantara percikan air. Lumayan juga menambah keindahan berfoto yang memang pemandangannya sudah indah.

Pelangi Curug Cikaso

Puas nyebur, mandi embun yang terbawa angin, difoto dengan berbagai posisi, dan lain sebagainya kami melanjutkan perjalanan menuju Ujung Genteng. Sekira 1,5 jam perjalanan dari Curug Cikaso kami sampai di Ujung Genteng. Disana banyak sekali penginapan, jadi gak usah kawatir kehabisan penginapan. Letaknya bervariatif dari TPI pantai ujung genteng, cibuaya,  sampai tempat penangkaran penyu banyak berjejer penginapan maupun villa. Harganya pun cukup terjangkau. Kebetulan kami memilih yang ada di Cibuaya dengan tarif 225ribu per malam, terdapat 2 kamar kasur besar, kasur besar diruang tv, dapur, kamar mandi, beserta teras yang luas. Menurut saya ini “worthed”. Dulu saya juga pernah nginep di deket TPI yang diujung genteng dengan harga sewa 300ribu per malam dengan fasilitas sama, hanya saja setiap kamar ada 2 kasur kecil. Namun, katanya kadang rawan pencurian jadi kita harus mawas diri. Analisis saya, kemanan bakal lebih terjamin pada penginapan berjenis semacam villa ataupun komplek penginapan yang berpagar walaupun harganya juga bakal lebih mahal, beda sekira 50-150. Ada juga penginapan dengan kamar singgle dengan harga sekitar 100-150ribu per malam.

Sunset Ujung Genteng

Sekira jam jam 1 kami cari makan disekitar penginapan, kami pake paket 25ribu per orang mulai dari masakan ikan, lalapan, sayur, nasi, es teh, tahu-tempe. Untuk daerah wisata makan itu cukup terjangkau dan tentunya nikmat serta mengenyangkan. Setelah istirahat siang, kami ke penangkaran penyu yang terletak di Pantai Pangumbahan. Tempat ini  bisa ditempuh sekira 10 menit pake mobil atau sekira 20 menit jalan menyusuri pantai dari penginapan kami di Cibuaya. Kami sekedar bermain dibibir pantai dan melihat prosesi pelepasan anak penyu yang dilakukan sekira jam 17.30. Sambil menunggu pelepasan anak penyu kami menikmati sunset yang kebetulanlumayan terlihat walaupun sedikit berawan.  Berhubung waktu weekend jadi cukup rame, bahkan ada segerombolan anak ITB yang salah satunya sejurusan dengan saya, tapi seperti biasa acuh tak acuh.

Pulang dari situ istirahat di penginapan lanjut makan ditempat yang sama dengan paket 25ribu per orang ditambah bonusan satu ikan bakar fresh dari bos Fuad. Ya beginilah enaknya kalo jalan-jalan di Perhimak dan ada bos-bos di rombongan, sering ada bonusnya. Malemnya biasanya kita bisa melihat penyu naik yang akan bertelur, jamnya biasanya gak pasti. Dulu saya pernah berangkat jam sembilan tapi baru ada penyu yang bertelur sekira jam 1-2 pagi. Kebetilan kami lebih memilih beristirahat, lagipula saya sudah pernah melihatnya, jadi gak terlalu penasaran.

Esoknya rencananya mau lihat sunrise di pantai Ujung Genteng sambil jalan pulang tapi rencana tinggal rencana. Beberapa orang hanya menikmati ombak pantai pagi hari disekitar penginepan. Jam 7 pagi kami cabut pulang, maklum banya bos yang harus pulang ke Jakarta tapi lewat bandung dulu. Jam sholat Dzuhur kami sampai ke kota Sukabumi dan mampir ke masjid Agungya untuk sholat. Habis sholat giliran bos Ali yang mensubsidi makan siang bersama sate kambing disekitar masjid. Akhirnya kami sampai Bandung sekira jam 18.30. Liburan ke Sukabumi yang kedua dengan cara berbeda, orang-orang berbeda, dan tentunya kesan yang berbeda juga. Uang 200ribu yang tak sia-sia, terima kasih teman-teman Perhimak Bandung.

About Asyhar


26 responses to “Trip To Sukabumi: Curug Cikaso, Cibuaya, dan Pantai Pangumbahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: