Mengenang Ramadhan Terdahulu, Bersiap Untuk Ramadhan Sekarang


Tak terasa ramadhan bentar lagi akan datang lain, tanggalnya berapa saya nunggu pemerintah, lebih khusus nungguin arahan ormas NU. Banyak cerita dan pembelajaran dari tahun ke tahun dari perjalanan hidup selama ramadha. Lebih tepatnya lagi terkait ‘ritual’ ibadah yang lebih saya galakkan. Selama kuliah kadang saya merasa bahwa ramadhan ini terasa biasa saja, seolah-olah gak terlihat spesial, terutama bila dilihat dari aktivitas.

Pas jaman SD mungkin yang paling terasa begitu istimewa momen-momen seperti ini. Ada yang karena pasti libur, bisa kumpul-kumpul sama temen dan sholat tarawih bareng, nungguin jaburan, ikutan tadarusan di musholla, dan lain sebagainya. Jaman SD adalah jaman dimana saya mulai berlatih puasa seharian, lupa tepatnya kelasa berapa tapi kalo tidak salah baru kelas 2 saya bisa puasa seharian walaupun gak sebulan penuh.

Jaman SMP dan SMA sedikit berubah, sekolah udah gak libur lagi tapi setidaknya momen-momen lainnya masih saya dapatkan. Dengan lingkungan yang berbeda, ada tuntutan untuk ibadah lebih giat lagi, mulai target-target bisa khatamin baca al-quran 30 juz, bisa tarawih full sebulan penuh, dan lain sebagainya. Khusus tarawih memang bukanlah sebuah kewajiban kita harus sebulan full, tapi bagi saya ini adalah tantangan minimal bisa berbuat ibadah yang lebih di bulan yang di muliakan Alloh. Tak semua target-target tersebut tercapai, bahkan mungkin hanya beberapa kali saya bisa khatam 30 juz dan bisa tarawih sebulan penuh dengan berjamaah. Namun, sampai dengan jaman SMA, ramadhan  selalu saja masih menjadi momen yang spesial.

Memasuki masa kuliah saya pribadi merasa ada yang kurang greget dengan ramadhan. Kampus emang gak kalah dalam menyambut ramadhan, lewat organisasi Gamais maupun Kamifa. Namun demikian terasa ada yang kurang membuat lebih spesial momen ini, seperti halnya pas jaman SD sampai SMA. Mungkin bisa jadi karena pengaruh lingkungan, terutama dalam hal ‘arah aliran islam’. Jujur saya gak terlalu sreg dengan kondisi keislaman di kampus, walaupun ada yang bilang kampus saya kampus negeri yang paling islami. Secara halus saya terkesan tidak mau terlalu aktif dalam berbagai organisasi keagamaan di kampus karena saya gak sejalan. Mungkin ini salah satu yang menjadi penyebab momen-momen ramadhan gak terasa begitu spesial.

Namun saya harus bersyukur untuk lebih membuka mata bahwa inilah indahnya perbedaan, bahkan sesama orang islam. Dulu mungkin saya sangat mengekang diri saya tapi sekarang saya bisa menerima perbedaan-perbedaan itu. Namun saya insyaalloh akan tetap berpegang teguh dengan prinsip yang saya jalani sekarang. Prinsip yang saya dapatkan dari keluarga ditambah gemblengan selama 6 tahun di pesantren, khususnya dalam menjalani ramadhan. Saya juga bersyukur karena orang-orang yang sepaham dengan saya mulai berkibar di kampus saya ini. Walaupun tidak aktif, setidaknya ini menjadi pemacu buat saya bahwa lingkungan yang seperti dahulu kala mulai terasa di bandung. Saya juga bisa terbantu dengan ilmu-ilmu yang mereka diskusikan di dunia maya. Mudah-mudahan ‘ritual-ritual’ ibadah selama ramadhan tahun ini dan selamanya lebih terasa lagi. Semoga saya bisa menghidupkan dan mencapai target-target ibadah yang lebih baik dengan adanya bulan ramadhan.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: