PKPA BBPOM: Mengintip Peran Apoteker di Bidang Pemerintahan


Salah satu agenda kuliah pendidikan profesi apoteker adalah Praktek Kerja Profesi Apoteker. Salah satu tempat PKPA yang wajib bagi mahasiswa peminatan Produksi dan Pengawasan Mutu (PM) adalah Badan POM. Kebetulan saya mendapatkan tempat di unit pelaksana teksnisnya, tepatnya di Balai Besar POM di Bandung. BBPOM ini terletak di depan Biofarma dan satu area dengan Dinkes Provinsi Jawa Barat, tepatnya di jalan Pasteur, No. 25, Bandung.

BBPOM ini merupakan pelaksana teknis kebijakan dari kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Badan POM. BBPOM merupakan unit pelaksana teknis tipe A yang memiliki 5 bidang guna menjalankan tugas dan fungsinya. Salah satu adalah Bidang Pengujian Mikrobiologi, dimana saya ditempatkan untuk belajar mengenal peran apoteker dalam pengawasan makanan dan obat. Salah satu bentuk sistem pengawasan ini dilakukan dengan pengujian secara laboratoruim. Pengujian secara mikroba antara lain ditujukan untuk mendeteksi adanya mikroba patogen, menguji sterilitas, maupun mendeteksi kebenaran fungsi suatu zat (misal, koefisien fenol, uji potensi, dll). Pada umumnya metode analisis yang menjadi acuan bagi mereka adalah hasil kajian dari PPOMN (Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional) yang merupakan bagian struktural Badan POM. Mereka membuat berbagai metode pengujian dengan mendatangkan tenaga ahli dari universitas-universitas terkemuka di Indonesia.

Dalam peran SISPOM, Bidang Pengujian Mikrobiologi lebih menjalankan dalam hal sub sistem pengawasan pemerintah, lebih tepatnya pengujian mutu secara laboratorium terhadap produk sampling, produk hasil inspeksi, maupun kerja sama dengan pihak lain. Adapun sub sistem lainnya ada sub sistem produsen dan sub sistem konsumen. Sub sistem produsen lebih mengarahkan produsen obata dan makanan untuk menerapkan cara produksi yang baik karena secara hukum mereka berkewajiban menghasilkan produk yang bermutu, berkualitas, dan bermanfaat. Adapun sub sistem konsumen lebih ke arah pencerdasan konsumen dalam hal pengetahuan terhadap produk. Hal ini dikarenakan pada akhirnya konsumenlah yang memutuskan dalam pemilihan produk sehingga diharapkan mereka tahu manfaat, keamanan, dan mutu dari produk yang akan mereka gunakan atau mereka beli.

Selain bidang pengujian mikrobiologi, masih ada 2 bidang pengujian secara laboratorium, yaitu Bidang Pengujian Teranokoko serta Bidang Pengujian Pangan & Bahan Berbahaya. Secara tupoksi, keduanya tak jauh berbeda dengan yang ada di Bidang Pengujian Mikrobiologi. Mereka akan melakukan pengujian terhadap sampel yang ada. Hal ini ditujukan untuk menjamin keajegan keamanan dan mutu obat yang beredar di masyarakat. Hal ini berkaitan langsung dengan misi menjalankan pengawasan post-market produk guna mencapai visi Badan POM, yaitu “Menjadi pengawas obat dan makanan yang Inovatif, Kredibel, dan diakui secara international guna melindungi masyarakat”.

Selain 3 Bidang yang telah disebutkan diatas, masih ada 2 bidang non-lab, yaitu Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen serta Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan. Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen dipecah menjadi Seksi Sertifikasi dan Seksi Layanan Informasi Konsumen. Seksi Sertifikasi menjalankan tupoksinya memberikan sertifikasi terhadap produk dan sarana produksi dan distribusi yang menjadi kewenangan BBPOM. Seksi Layanan Informasi Konsumen akan memberikan segala informasi yang ditanyakan oleh konsumen dan jika tidak bisa dijawab langsung maka akan dicarikan informasinya untuk kemudian diinfokan ke konsumen. Adapun bidang Pemeriksaan dan Penyelidikan juga dipisahkan menjadi Seksi Pemeriksaan dan Seksi Penyidikan. Seksi Pemeriksaan menjalankan tupoksi terkait pemeriksaan produk, sarana produksi, dan sarana distribusi yang ada di Jawa Barat. Hal ini termasuk penyamplingan produk, baik rutin maupun keadaan khusus,  yang selanjutnya akan di uji secara laboratorium oleh bidang terkait. Seksi Penyidikan akan menindaklanjuti hasil pemeriksaan yang tak memenuhi syarat yang selanjutnya bisa dilakukan pembinaan terhadap pihak terkait. Secara tidak langsung semua bidang saling terintegrasi secara penuh dalam menjalankan pengawasan.

Secara sistem manajemen, apa yang dicanangkan oleh Badan POM maupun yang dilaksanakan oleh BBPOM sangatlah bagus guna pengawasan obat dan makanan sehingga melindungi konsumen. Kita ketahui bahwa personil Badan POM tidak sebanding dengan jumlah produk, sarana produksi dan sarana distribusi obat dan makanan yang ada di Indonesia. Belum lagi pengawasan ini tak akan lepas dari besarnya biaya. Oleh karena itu peran ini bukan semata hanya menjadi tanggung jawab pribadi Badan POM. Sistem ini akan tercapai bila semua pihak saling terintegrasi dan saling mendukung, mulai dari produsen, masyarakat, dan pemerintah (Badan POM). Mudah-mudahan kita bisa ikut ambil bagian dalam membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Tak usah banyak cakap kita tak bisa berperan atau kita tak bisa merubah kenyataan yang sekarang, cukup mulailah hal-hal kecil dengan benar. Mari kita biasakan hal yang benar, jangan sampai kita membenarkan kebiasaan yang salah.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: