Semakin #harapmaklum Beraktivitas di Bulan Puasa


Selasa, 6 Agustus 2013, saya dan bapak saya jalan-jalan menyusuri kota dengan sepeda motor sembari mencari tiket kereta dan barang pesenan ibu. Maklum, rumah keluarga kami cukup jauh dari kota, lebih kurang 30 km dari pusat kota kabupaten Kebumen. Sekira 6,5 jam kami ngabuburit menyusuri dua kabupaten yang berbeda, yaitu Kebumen dan Purworejo. Berangkat  sekitar pukul 11.00 dan sampai rumah lagi sekira jam 17.30. Memulai perjalanan melewati jalan Dendeles di jalur selatan, kami sudah disuguhi pemandangan penjual sate ambal di daerah Ambal. Sate ambal ini merupakan salah satu makanan khas dari daerah saya. Baunya sangat menggoda para pemudik yang melewati jalur alternatif Karangayar – Jogja ini. hal ini terbukti dengan banyaknya mobil-mobil berplat luar Kebumen yang terparkir rapi di depan warung-warung sate. Hampir gak ada bedanya dengan bulan-bulan lain, semua terlihat menikmati aktivitas mereka.

Sampai kota Kebumen, pikiran saya terus bernostalgia tentang kehidupan saya 11 tahun yang lalu selama kurang lebih 6 tahun. Banyak perubahan yang terjadi di kota saya ini, termasuk pasar Tumenggungan yang baru saja selesai direnovasi. Kota ini begitu rame di H-2 lebaran, hampir setiap toko menjadi tempat kerumunan orang. Tak hanya pasar, pusat perbelanjaan, toko pakaian, toko emas, dan dealer motor saja yang ramai, warung bakso, mi ayam, dan makanan lain juga ikutan ramai. Sekarang ini orang sudah tak terlihat malu makan ditempat umum saat bulan ramadhan, begitu juga dengan para penjualnya yang sudah sangat jarang memasang tirai-tirai penutup. Aktivitas-aktivitas ini terpantau sangat jelas yang memang hanya saya amati dari jalan raya. Dulu saya juga sering ke kota saat bulan puasa untuk sekedar beli baju lebaran tapi saya tak menemukan pemandangan yang seterbuka pemandangan kali ini.

Semua tempat yang ada di kota kebumen kami kunjungi untuk mencari pesanan ibu, tapi 4 tempat yang kami datangi menyatakan bahwa barangnya habis. Saya juga kelupaan buat beli tiket kereta untuk balik ke Bandung. Akhirnya kami memutuskan untuk ke pinggiran kota, kali aja ada barang di tempat yang lebih kecil dan kurang terjangkau. Di Kutowinangun ada satu barang yang kami cari tapi warnanya gak sesuai selera. Sembari istirahat sholat saya menyempatkan ke stasiun terdekat guna membeli tiket. Mau beli tanggal 14 tapi tiket paling deket yang tersedia adalah tanggal 15, ya lumayan masih ada satu malam untuk istirahat sebelum ngurusin persiapan ujian apoteker. Untuk pertama kalinya juga saya membeli tiket kereta bisnis untuk pergi ke Bandung karena biasanya saya menjadi pelanggan tetap kereta ekonomi atau kalau gak dapet ya naik bis.

Barang pertama sudah kami dapatkan, lalu kami memutuskan untuk mencari barang titipan ibu ke kabupaten sebelah. Tempat pertama adalah Kutoarjo, tapi disini barang juga sudah habis. Kepalang tanggung kami teruskan perjalanan kami ke kota Purworejo. Alhamdulillah, perjalanan jauh ini diakhiri dengan banyaknya pilihan barang, mulai dari jenis dan warnanya. Setelah pilih-pilih jenis, warna, dan harga, kami jatuhkan pada warna biru dan harga yang paling mahal. Pilihan ini bukan karena mahalnya tapi lebih karena warnanya yang paling menarik sesuai selera saya dan bapak saya, yaitu biru.

Sepanjang perjalanan saya juga terus sambil mengamati aktivitas dan tingkah laku orang di perjalanan. Tak lupa juga turut menikmati rasanya macet, maklum kan musim mudik. Pemandangan dari Kebumen sampai Purworejo sebenarnya tak jauh beda dengan apa yang saya lihat di Ambal dan di Kota Kebumen. Terlalu banyak aktivitas #harapmaklum di bulan puasa ini. Kebebasan ala demokrasi sudah menjadi tameng untuk orang berbuat ‘semaunya’. Gak ada jamannya lagi malu-malu beraktivitas ‘normal’ di bulan puasa. Gak jaman malu makan di tempat umum, gak jaman malu jualan tanpa tirai-tirai penutup di tempat umum, gak jaman lagi malu karena ngerokok di tempat umum. Warung-warung sangat terbuka menjajakan makanan walaupun masih siang bolong. Kadang alasan capek belanja jadi alasan harus makan, kadang alasan capek mudik (ini masih mending) jadi alasan untuk cari makan dipinggir jalan. Disisi penjual alasan jualan terbuka adalah biar dilihat orang dan gampang dicari buat yang cari makan. Alasan-alasan yang sangat logis dan gak salah. Namun secara etika luhur bangsa ini, ada hal yang gak benar karena gak adanya saling menghormati orang-orang yang berpuasa dan memuliakan bulan ramadhan yang memang sudah mulia. Sekarang orang-orang lebih cenderung berpikir kalau ibadah itu urusan masing-masing, puasa gak boleh tergantung lingkungan dan harus kuat tanpa peduli lingkungan yang banyak menawarkan makanan. Yang gak puasa silahkan makan. Kalau ini di negara mayoritas non muslim mungkin bisa dimaklumi, tapi kalo ni negara mayoritas muslim terbesar di dunia saya rasa patut dipertanyakan keadaan seperti ini. Mudah-mudahan ke depan akan lebih baik lagi, mudah-mudahan ini hanya sebuah transisi untuk menyadarkan kita semua untuk lebih bertoleransi lagi dan memaknai makna demokrasi kebebasan yang lebih baik. aamiin….

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: