Etika Profesi dan Hukum: Siapa Yang Lebih Berkuasa?


Kemarin bangsa Indonesia dibuat heboh dengan berita ‘demo’ & ‘mogoknya’ dokter yang diprakasai oleh Ikatan Dokter Indonesia. Padahala biasanya yang demo itu bisanya adalah buruh, mahasiswa, ataupun ormas. Padahal biasanya yang menghiasi berita di TV adalah berita koruptor, bencana alam, ataupun kejahatan lainnya. Negara ini katanya adalah negara hukum, mungkin inikah salah satu implementasi penegakan sebuah hukum? Entahlah, disini saya hanya ingin membahas terkait masalah seputar kode etik profesi karena kebetulan saya juga mempunyai jabatan profesi (tapi bukan dokter, melainkan apoteker).

Dokter adalah sebuah profesi kesehatan, sama halnya dengan apoteker walaupun dokter lebih eksis dimata masyarakat Indonesia karena memang peranannya lebih nyata dan terasa. Seperti profesi lainnya, dokter mempunyai aturan tersendiri yang memang sebagai ciri suatu profesi. Aturan itu berupa kode etik profesi yang bisa didefinisikan sebagai pedoman norma, nilai atau pola tingkah laku kelompok profesi tertentu dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Sebuah profesi punya tanggung jawab jelas, fokus utama suatu profesi adalah mementingkan kepentingan masyarakat.

Lalu apa perbedaan etika profesi dan hukum? Etika profesi berlaku lebih sempit, yaitu hanya pada lingkup profesi masing-masing sedangkan hukum berlaku umum. Etika profesi disusun oleh anggotanya guna melindungi profesinya sedangkan hukum bisa dibuat atas dasar kekuasaan. Pelanggaran terhadap kode etik biasanya lebih berupa tuntunan sedangkan pelanggaran terhadap hukum biasanya berupa tuntutan. Paling parah, pelanggaran terhadap kode etik adalah dilepasnya jabatan keprofesian. Pelanggaran terhadap kode etik biasanya diselesaikan secara resmi oleh Majelis Kehormatan Etik profesi masing-masing. Adapun pelanggaran terhadap hukum bisa diselesaikan secara resmi lewat pengadilan.

Secara umum, setiap orang bisa dikenakan hukum yang berlaku, baik yang mempunyai jabatan keprofesian maupun tidak. Dalam kasus dokter Ayu cs, MA sendiri telah menyatakan adanya 3 kesalahan. Kesalahan pertama adalah tidak mempertimbangkan hasil rekam medis dari puskesmas, kedua adalah tidak pernah menyampaikan kepada keluarga pasien setiap risiko dan kemungkinan yang bakal terjadi, termasuk risiko kematian, sebelum tindakan operasi, dan kesalahan ketiga adalah melakukan kelalaian berefek domino yang mengakibatkan kegagalan fungsi jantung. Entah, apakah ketiga kesalahan tersebut juga menyalahi kode etik mereka karena saya juga tidak tau detail kode etik mereka. Satu hal yang jelas, menurut saya setiap pasien punya hak untuk memberikan persetujuan tindakan yang dilakukan oleh dokter atau minimal tau apa yang akan dilakukan oleh dokter. Selama ini pun tidak ada klarifikasi resmi yang terdengar oleh masyarakat secara luas, baik oleh pihak rumah sakit maupun organisasi mereka. Klarifikasi bisa dilakukan oleh Majelis Kode Etik  terkait pelaksanaan kode etik profesi dan atau pihak rumah sakit terkait SOP pelayanan. Mungkin memang masyarakat lain tidak punya hak untuk tahu, tapi dengan menyeruaknya kasus ini ke masyarakat luas maka klarifikasi tersebut menjadi wajib. Hal ini akan jauh lebih efektif dalam rangka mencerdaskan masyarakat bahwa setiap profesi, termasuk dokter, punya kode etik dan pedoman dalam menjalankan tugasnya. Jadi, masyarakat pun nantinya bisa lebih jeli kalaupun harus membawa perkara mereka ke jalur hukum. Menurut pandangan saya sebagai masyarakat awam, hukum itu hak setiap warga dan tidak kebal terhadap siapapun.

Demo kemarin tentunya menuai tanggapan yang beragam. Bagi saya sebagai masyarakat saya menyayangkan sikap IDI yang menghimbau untuk menyuarakan anggotanya turun ke jalan. Akan lebih baik jika mereka lebih mengedapankan jalur birokrasi guna mendapatkan kepastian hukum perlindungan profesi mereka. Profesi bukanlah buruh atau pekerjaan lain, karena profesi harus tetap mengedepankan kepentingan umum (masyarakat) dibandingkan kepentingan diri mereka sendiri (termasuk ikatan organisasi mereka). Kemenkes pun tidak tinggal diam, mereka mendukung tapi menekankan bahwa pelayanan harus tetap jalan. Sebagai seorng yang punya jabatan profesi, saya pun mendukung aksi solidaritas tersebut tapi tidak dengan aksi turun ke jalan dan aksi mogoknya pelayanan apalagi kalau sampai seharian.

Pada dasarnya, aksi solidaritas dokter merupakan hal yang wajar dan layak dilakukan. Namun ada hal yang lebih elegan untuk dilakukan dibandingkan turun ke jalan atau mogok kerja. Kepastian hukum yang mereka suarakan juga dapat dilakukan lewat jalur birokrasi yang resmi lewat Kemenkes dan IDI.Untuk  jangka pendek, mereka dapat mengajukan PK terhadap putusan MA; sedangkan untuk jangka panjang mereka dapat mengajukan kepastian hukum ke pemerintah yang bisa membuat nyaman mereka dalam bekerja. Misalnya, penerbitan UU ataupun Permenkes guna melindungi profesi mereka. Selain itu, momen protes juga bisa dilakukan sosialisasi ke masyarakat adanya Kode Etik dan SOP profesi terkait pelayanan profesi dokter. Majelis Kode Etik dan atau Pihak Rumah Sakit sebaiknya memberikan pernyataan resmi apakah ada pelanggaran kode etik dan atau SOP Pelayanan. Jikalau ada pelanggaran mereka dapat mengadukannya ke Majelis Kehormatan Etik. Kalaupun nantinya tidak puas terhadap penyelesaian yang didapat, mereka dapat membawanya ke jalur hukum karena memang negara hukum dan hukum tidak membatasi siapapun. Namun, masyarakut pun tak boleh egois setiap masalah bisa dibawa ke jalur hukum karena hukum buatan manusia tak ada yang sempurna dan selalu ada celahnya.

Semoga kejadian ini bukan ajang arogansi belaka yang bisa jadi menjadi awal keterpurukan profesi. Mudah-mudahan kejadian ini semakin menyadarkan semua pihak, baik penyandang jabatan profesi, pemerintah, penegak hukum maupun masyarakat umum. Kadang hukum bukan hanya masalah hitam putih diatas kertas, tapi juga melibatkan moral dan hati nurani. Mari saling intropeksi dan menghargai kewenangan, kewajiban, dan hak masing-masing. Semoga kedepan, semua menjadi lebih baik karena semua itu bisa terjadi kalau kita mau berusaha.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: