Makan tuh Mimpimu dan Omonganmu!!!


Sebuah judul yang agak kasar, tapi apalah daya itu memang yang terjadi sekarang ini pada diri ini. Jaman tingkat dua-an punya mimpi pengin kerja dengan posisi yang strategis dan punya kendali di tempat kerja. Sekarang itu terwujud. Walaupun masih fresh graduate dan bau kencur peluang jadi pengendali mutu sudah 99,99% (kalau saya bertahan). Pas jadi pengangguran saya pernah berujar, kepastian pekerjaan yang datang pertama kali itulah yang saya ambil. Sampai-sampai saya rela nungguin pengumuman dari instansi pemerintah doang tanpa melamar kemanapun. Sayang gak dapet sampai akhirnya dapet kepastian kerjaan yang sekarang dan langsung saya ambil. Walau disisi lain ada tawaran proses rekruitmen dari tempat yang sebenarnya lebih jelas dan mungkin lebih menarik. Jadi, sekarang ini juga terwujud.

Jaman pengangguran saya pernah berujar gak mementingkan gaji untuk kerja 1 tahun pertama, yang penting cukup buat makan dan cukup buat nabung sebesar lebih kurang 2x jatah bulanan dari orang tua. Sekarang itu terwujud. Walaupun gaji masih kecil dibandingkan temen seangkatan tapi sejauh ini ada fasilitas makan, transport, dan tempat tinggal gratis yang bisa saya manfaatkan. Tentunya ini sangat menekan pengeluaran per bulan. Bahkan pengeluaran perbulan hanya setengah dari jaman kuliah. Ya walaupun semua/sebagian fasilitas ini pengin saya akhiri bulan ini, bukan karena dicabut tapi karena satu dan lain hal.

Tingkat akhir jaman sarjana saya pernah berujar tak akan jadi kutu loncat hanya karena perbedaan gaji sekira 1 juta dan minimal bertahan di sebuah perusahaan adalah 1-2 tahun. Sekarang itu terwujud. Ini yang sekarang terjadi dan masih mengganggu pikiran. Akankah saya harus tetap memegang mimpi dan omongan saya sendiri? Ataukah malah mengabaikannya ‘hanya’ demi kejelasan status pekerjaan? Akankah saya ikut larut seperti dalam janji-janji politis, yang katanya realisasi janji tergantung dinamika politik? Itu hanya pertanyaan-pertanyaan yang mudah dijawab, tapi susah mengimplementasikannya.

Salah satu pilihan arah jalan hidup itu sedang kita jalani. Sejauh ini saya mencoba bertahan mempertahankan nasib saya sesuai mimpi dan omongan saya. Mudah-mudahan ini sebagai bentuk rasa syukur saya kepada Tuhan yang telah mewujudkan mimpi dan omongan saya. Disisi lain saya juga memegang janji lulusan sarjana dari kampus saya dan memegang janji profesi saya. Keduanya harus tetap dijunjung tinggi dengan tetap mempertahan ketentuan yang lain. Ada tingkatan prioritas sebuah janji, mana yang jadi acuan utama dan mana yang jadi acuan pelengkap. Sama seperti aturan  dalam berbangsa dan bernegara ada tingkatan aturan yang tertinggi mulai dari UUD ’45 sampai terendah Perda. Sama seperti ketentuan pegang dalam beragama ada Al Quran dan Hadist yang jadi acuan utama dan ada fatwa-fatwa ulama yang jadi pelengkap. Prinsipnya satu ada yang harus jadi acuan utama dan yang lainnya gak boleh berbenturan dengannya.

Jadi, pilihan terbaik untuk saat ini adalah jalani takdir Tuhan khususnya tentang mimpi-mimpi saya dengan pedoman omongan saya selama itu tak terbentur dengan janji sarjana dan profesi saya (tentunya ada batas toleransi yang wajar). Mungkin ini bagian takdir yang harus saya jalani sebelum melangkah ke suratan takdir-takdir yang lain. Sebisa mungkin tak boleh ada yang kita sesali atas terwujudnya permintaan kita yang terwujud. Disisi lain semua itu harus dijaga dengan integritas dan idealitas yang terucap oleh mulut kita. Semoga jalan yang kita pilih ini adalah yang terbaik dan di ridhoi oleh-Nya.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: