Cerita dari Situ Gunung, Sukabumi


Sabtu-Minggu kemarin saya berkesempatan maen ke Sukabumi, diajakin rekanan bos yang lagi ada training karyawannya. Sembari mengenal calon partner bisnisnya bos dan juga maen. Diajakinnya juga dadakan, padahal diminta jelasin product knowledge terkait rencana industri IOT kedepan. Perjalanan ke tempat baru bersama orang baru dan memuncukan pemikiran-pemikiran baru.

Kebetulan kami menginap di sebuah Villa dikawasan Situ Gunung, Kadudampit, Sukabumi, selama 2 hari dua malam. Malam pertama diisi dengan istirahat, hari kedua diskusi dan training karyawan termasuk diskusi product knowledge. Hari ketiga diisi dengan main game paint ball di area Taman Nasional Gn. Gede Pangrango. Alhamdulillah akomodasi, transportasi, dan nutrisi ditanggung rekanan bos dan masih dapet uang odol. Rejeki emang bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka, syukur ahamdulillah.

Ada beberapa asaumsi-asumsi pemikiran terkait diri saya, profesi saya, dunia kerja yang sekarang sedang saya geluti, maupun masyarakat.

Saya perlu terus belajar lagi tentang cara komunikasi dan interaksi yang baik.

Saya masih gagal memahami audiens terlebih dahulu sebelum menyampaikan sebuah materi. Materi saya langsung terlalu dalam sehingga memunculkan harapan berlebih, padahal mereka pun (ternyata) belum tahun konsep definisi obat, baik tradisional maupun konvensional, termasuk bagaimana ‘obat’ itu sampai disebut sebagai obat. Ini berarti murni kesalahan saya belum memahami orang lain sebelum berharap mereka memahami saya.

Teori kepemimpinan itu gampang.

Salah satu agenda training adalah motivasi diri. disitu disampaikan berbagai teori kiat sukses. untuk sukses dalam kerja kita harus punya kemandirian dalam bekerja, dalam aritan kita harus proaktif yang terarah, punya target yang jelas, bisa atur prioritas, kerja sinergis dan bisa memahami orang lain untuk sehingga mereka bisa memahami kita. Kita banyak diskusi tentang teori-teori tersebut. Pada akhirnya ada celetukan bahwa teori itu gampang tapi kembali lagi bahwa penerapannya itu tergantung pada sifat dan tabiat masing-masing individu. Saya mengamini celotahan tersebut dan bagi saya penerapan suatu teori juga bisa didukung dengan kemampuan adaptasi dan lingkungan yang baik. Setidaknya ketika seseorang punya sifat dan tabiat yang kurang mendukung bisa dibentuk pada lingkungan yang baik, tentunya dengan kemampunan adaptasi yang baik akan mempercepat penerapan terori-teori yang ada. Jika tak mampu beradaptasi ya sudah, mau diapa lagi?

Kerja nyata masyarakat atau sekedar memanfaatkan peluang?

Selama perjalanan kemarin saya menemui beberapa aktivitas masyarakat yang sebenarnya sudah tak asing bagi kita semua, yaitu ‘menadahkan tangan’ sambil menunjukkan kerja keras mereka mengatur lalu lintas dan/atau memperbaiki jalan yang rusak. Anak orang tua, pemuda, bahkan anak-anak. Ada beberapa pertanyaan yang menghinggapi pemikiran kami: mereka ngapain nambal jalan pakai tanah? Trus tanggung jawab pemerintah mana terhadap konstruksi jalan yang rusak-rusak mulu? Dimana pihak kepolisian yang bisa bantu ngatur lalu lintas? Ah, entahlah.

Pemda Sukabumi peduli agama.

Hal ini terliha dari poster yang menempel di masjid selama kami sholat di daerah villa kami berada. Ada poster kecil atas nama pemda sukabumu yang memberikan instruksi setiap ba’da manghrib adalah waktunya anak-anak ngaji di mushola atau masjid-masjid terdekat dan menganjurkan para perempuan untuk mengenakan jilbab mereka.

Siapa yang tanggung aturan main legalitas industri berjalan konsisten?

Banyak dari segmen pemain industri obat tradisional yang belum memahami aturan main, khususnya masalah legalitas dan penjaminan mutu produk. Walaupun secara asumsi, mereka sadar untuk memperoleh produk bermutu mereka harus menjaga kualitas. Bahasa kasarnya, sekarang sudah mulai banyak produk OT yang beredar mencantumkan no regitrasi BPOM, tapi saya rasa banyak juga yang produksinya tak sesuai ketentuan BPOM. Ini menunjukkan bahwa sosialisasi urgensi legalitas masih kurang.

Apoteker cenderung cari aman (mungkin termasuk saya).

Batasan argumentasi saya ini terbatas untuk apoteker yang bekerja di industri. Intinya sangat minim apoteker, baik fresh graduate maupun berpengalaman yang terjun untuk menginisiasi pembentukan sistem mutu pada industri obat tradisional kelas menegha kebawah. Padahal dunia herbal indonesia itu sangat banyak, coba aja lihat di internet. Sekarang ini yang saya lagi ikut terjun membangun sistem mutu (mendirikan pabrik IOT) juga sedang dalam masa kebimbangan akan karir saya disini dengan berbagai alasan dan permasalahn yang ada.

Banyak masyarakat yang belum paham siapa apoteker.

Ini tentunya sudah jadi rahasia umum. Ada yang beranggapan apoteker itu ‘penjaga apotek’, ada yang beranggapan yang kerja dirumah sakit, ada yang beranggapan kerjanya ngeracik obat dan lain-lain. Pada intinya sekarang ini lebih berkembang bahwa aspek klinis itu harga mati seoarang apoteker. Pada kenyataannya apoteker itu ada bidangnya masing-masing. Coba aja tanyain farmakologi ama apoteker berpengalaman di bidang produksi, QC, QA. Saya rasa banyak yang akan gelagepan ngejawabnya. Atau sebaliknya, apoteker berpengalaman klinis (yang kerja di apotek / rumah sakit) tanyain sistem penjaminan mutu obat di industri pasti juga akan gelagepan ngejawabnya. Kalau yang fresh graduate mungkin bisa jawab dua-duanya tapi saya rasa jawaban mereka masih akan terkotak-kotakkan oleh teori-teori yang mungkin terasa idealis & kaku.

Pada intinya banyak hal yang mesti kita pahami dan pelajari lagi untuk bisa berkembang dan menentukan karir kita. Sejauh ini saya pun belum 100% mantap dengan pilihan karir yang sekarang. Bismillah, semoga bisa segera menemukan jalan terpintas menggapai takdir-takdir Tuhan yang terbaik.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: