Apa itu Idealisme dalam Dunia Kerja?


Pas jaman kuliah tingkat 1, saya masih teringat pertanyaan kakak kelas pas masa kaderisasi dalam diskusi kelompok. Pertanyaannya simpel dan kira-kira begini, “Kalo nanti kerja dan jadi penanggung jawab, kalo ada persyaratan obat yang tak memenuhi persyaratan walaupun hanya kurang dikit banget, apa yang akan kamu lakukan?”. Jawaban kami pun rata-rata simpel, “Tolak!”. Kakaknya melanjutkan pertanyaan, “Kalo itu juga menyangkut nasib posisi teman kamu juga?”. Jawaban kami pun masih simpel, “Tetep tolak!”, yang kemudian hanya ditimpali dengan senyuman. Salah satu alasan kami menjawab seperti itu adalah karena alasan idelasime. Pekerjaan apoteker atau orang-orang farmasi bukanlah pekerjaan yang main-main, banyak aturan yang mesti dipegang dan dijaga konsistensi pelaksanaannya.

Saya masih inget perkataan senior-senior saya tentang idealisme seorang apoteker atau sarjana farmasi. Katanya. “Kalau mau tetep ideal jangan kerja di industri, jadilah peneliti ataupun dosen!”. Ada juga yang bilang, “Kalau mau tetap menjaga idelasime seoarang apoteker atau sarjana farmasi, jangan pernah kerja dibidang farmasi!”. Yah, menurut saya itu merupakan pernyataan-pernyataan yang sangat logis. Sepemantauan saya pun ada senior-senior saya yang menerapkannya. Entah memang karena alasan prinsip atau entah karena alasan kepepet (butuh uang lebih), saya kurang tau.

Dulu saya pernah magang, baik di pemerintahan sebagai penegak aturan (Badan POM) maupun industri besar yang tentunya pelaksanaan aturannya lebih baik dari yang lainnya.terlepas dari pemahaman ideal saya yang kurang, secara detail, bisa saya katakan kedua tempat tersebut tak se-ideal yang saya pikirkan. Kalau mereka saja gak se-ideal itu, trus gimana nasib industri-industri kecil yang jumlahnya lebih banyak?

Kebetulan saya sekarang juga lagi kerja serabutan di industri kelas kecil. Banyak hal-hal ‘ajaib’ yang saya ketahui, baik langsung ditempat kerja atau informasi dari relasi. Kalau pedoman idelasime adalah pemahaman masa kuliah, menurut saya gak ada industri yang ideal. Apalagi kalau kita tahu konsep suatu industri secara keseluruhan, bukan per bidang sesuai bidang kerjanya. Lalu apa definisi idealisme di dunia kerja? Khususnya pekerjaan apoteker? Apakah harus plek jiplek dengan aturan/ketentuan yang ada? Toh aturan-aturan yang ada itu buatan para apoteker. Mereka tentunya lebih paham tujuan akhir aturan itu bukan ketertiban pelaksanaannya, melainkan perlindungan konsumen/kualitas produk. Jadi kalaupun ada gap-gap aturan dan kenyataan, harusnya mereka bisa lebih bijak dalam menyikapinya.

Selama 4 bulan kerja, masih ada kebimbangan dan keraguan saya atas definisi idealisme di dunia kerja. Kalau mau enak, saya mending pilih resign kemudian pilih tempat kerja yang lebih mendekati ideal. Kalau nggak kerja aja di pemerintahan/regulator, lebih enak menjalankan idealisme, kalau ada pelanggaran tinggal beri sanksi. Namun kemudian ada keinginan untuk berbuat lebih di dunia industri kecil, apalagi tau kalau jarang sekali apoteker yang mau kerja di wilayah ini, rasanya gatel juga. Namun ya itu tadi, saya juga gak terlalu nyaman bekerja dibawah bayang-bayang ‘ilegalitas’ karena, katanya, yang “legal” terlalu memihak kaum kapitalis. Toh, saya ini masih fresh graduate masih ada 8 bulan batasan loyalitas saya untuk belajar lagi mengenai definisi idealisme di dunia kerja. Sebelum nantinya saya harus menentukan langkah yang lebih besar memilih dan menapaki kerjaan yang terbaik. Bismillah, semoga terus dibimbing Tuhan, menjalani takdir pekerjaan terbaik dari-Nya.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: