Ujung Genteng Lagi!


Berjejer di Pantai Pangumbahan

Berjejer di Pantai Pangumbahan

Ngecer naik angkutan umum udah. Naik mobil pribadi (sewaan) juga udah. Dan akhirnya naik motor pun dijalani. Yah, semua perjalanan itu menuju daerah yang sama, Ujung Genteng dan sekitarnya. Sabtu, 31 Mei 2014 saya dan teman-teman ‘nekat’ naik motor dari Depok ke Ujung Genteng. Sebagai bekal, kami sudah berkonsultasi dengan mbah Google sebelum melakukan perjalanan. Perkiraan kami perjalanan bakal menghabiskan waktu 8-9 jam di jalan dengan kecepatan cukup santai.

Yang Mana Jalurnya?

Yang Mana Jalurnya?

Ngaso Di Jalur Cigaru

Kami berkumpul sekira jam 08.00 dan langsung ambil jalan Raya Bogor tembus Ciawi. Ternyata didaerah Bogor lagi ada ‘arisan’ pol*si, sayangnya SIM ada, jadi gak boleh ikutan. Belum lagi aksesoris knalpot motor saya pake copot, jadi ya minggir dulu dijalan. Perjalanan lanjut dari Ciawi ke Cicurug, lalu ke Parung Kuda sampai ke Cibadak. Dua daerah terakhir sangat macet. Harusnya kami lanjut lewat Cigombong, tapi asumsi kita mengatakan akan macet, jadi kita ambil jalur Cikidang ke arah Pelabuhan Ratu. Jalanan jalur Cikidang mulus banget, ada hamparan perkebunan sawit yang menambah indah perjalanan. Namun ada beberapa kombinasi tanjakan dan belokan tidak cukup manusiawi.

Jalur Cikidang

Sekitar jam 12, kami sampai pelabuhan ratu, istirahat sejenak sembari isi perut motor dan perut masing-masing. Ini berarti masih ada setengah pejalanan lagi. Dari Pelabuhan Ratu kami melewati Cigaru untuk menuju Surade/Jampangkulon. Jalur ini lumayan alus dibandingkan dengan jalur Cikembar-Bojongpolang. Sesampainya di daerah Surade kami kembali isi perut motor sambil ishoma. Hari semakin sore, jam sekira menunjukkan angka 4 lebih, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Jalan terasa begitu panjang sampai akhirnya kami sampai juga ke area Ujung Genteng. Ya kami tiba cukup sore sekira jam setengah 6, lebih lama dari perkiraan kami. Total perjalanan hampir 9 jam, tapi maklum karena pacuan motor hanya berkisar 40-50 km/jam, hanya seseskali main 60 km/jam.

Mari Kita Kesana!

Mari Kita Kesana!

Sesampainya di Ujung Genteng saya langsung inisiatif bawa teman-teman ke pantai pangumbahan karena pengin cari pasir yang lembut. Sayang sekali ban motor saya harus bocor, sehingga cukup menyulitkan kalau mau cari penginepan. Alhasil, penginepan seadanya yang kami pilih karena hari juga sudah gelap. Sambil menunggu langit gelap kami sempatkan menikmati suasana pantai. Sehabis ‘isya kami kembali isi perut disekitar penginepan sambil desiran ombak beratap bintang-bintang. Sampai akhirnya mata tertutup karena lelah dan tidak ada agenda kunjungan penyu bertelur.

Sunset Pantai Pangumbahan

Yuk Ken Penginepan

Pagi datang adalah saatnya jalan-jalan, berpuas menikmati pantai. Kami berjalan menyusuri pantai dan tak lupa mengisi perut dipinggir pantai ditemani desiran ombak. Kami terus berjalan menyusuri bibir pantai sampai akhirnya berhenti di dekat penangkaran penyu yang pasirnya sudah halu. Kami mencoba memuaskan diri menikmati ombak dan pasirnya walau terik matahari semakin menantang. Barang-barang kami pun ikut ‘bermain’ air karena ombak yang terlalu besar.

Menu Makan Malam

Menu Makan Malam

 

Main Air

Main Air

Yuk Lompat!

Yuk Lompat!

Setelah puas bermain air, kami kembali ke penginepan guna mempersiapkan badan menerjan jalanan pulang. Untuk jalan pulang kami tak mengambil jalur Pelabuhan Ratu, kami ambil jalur Bojongplolang-Cikembar dan tembus Cibadak. Kami sudah terjebak malam di Cikembar dengan perjalanan yang seakan tak berujung dan berada ditengah hutan. Sampai akhirnya kami menemukan titik terang setelah sampai Cibadak. Kami memutuskan istirahat sejenak sembari mengisi perut di Cibadak setelah perjalanan panjang ditengah hutan yang melelahkan.

Narsis Jalanan

Narsis Jalanan

Perjalanan masih panjang, walaupun hujan keluar dari jalanan hutan yang berliku, kami harus menerjang jalanan kota yang juga tak kalah panjang. Kami terus menyusuri jalanan Cibadak-Parungkuda-Cicurug-Ciawi berteman truk-truk besar dan juga kemacetan. Sebagai pemula dalam perjalanan jauh, terkadang saya masih terlalu ragu untuk mengambil celah sempit jalanan sehingga kadang harus disemprot kendaraan lain dari arah yang berlawanan. Setelah lewat ciawi kami terpisah jadi 2 jalur, saya masuk jalur kota Bogor tapi karena sudah terlalu malam dan kurang fokus kami sempat nyasar sampai dua kali, bahkan kembali ke arah Cigombong. Pada akhirnya kami sadar kami nyasar dan menemukan jalan pulang dan tiba di Depok sekira jam 11 malam. Adapun kami berangkat dari Ujung Genteng sekira jam 2 siang, dengan nyasar sekira 1 jam. Ya, perjalanan pulang tetap makan waktu 9 jam walaupun pacuan motor sudah dinaikin 50-60 km/jam.

Pasir, Pasir

Berendam Pasir

Tentunnya ini menjadi pengalan yang berbeda bagi saya walaupun tempat tujuan adalah yang ketiga kalinya. Ini adalah perjalanan terpanjang dan terlama saya dengan motor. Jari pun sampai lecet karena nahan gas di jalanan kerikil berlubang. Perjalanan 9 jam ini sudah kayak pulang dari jakarta ke rumah. Dulu sempat merencanakan pulang dari Bandung ke rumah pake motor tapi belom kesampean karena motor keburu dipinjem orang sampai gak balik. Perjalanan pertama ke ujung Genteng adalah menikmati pantai arah kiri dan penyu bertelur, perjalanan kedua adalah menikmati curug Cikaso dan pelepasan anak penyu, dan perjalanan ketiga adalah menikmati pantai arah kanan. Terima kasih teman-teman Cosindo atas pengalaman dan pembelajarannya. Terima kasih Rian, Fauzi, Dyah, dan Hargi. Semoga kapan kita bisa kemana lagi.

Mana Bintangnya?

Mana Bintangnya?

About Asyhar


4 responses to “Ujung Genteng Lagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: