Semangat Kualitas dalam Produksi


Quantity vs Quality

Di sebuah industri, departemen produksi ibarat sebuah lokomotif dalam sebuah kereta. Kinerja terfokus menghasilkan barang untuk di suplai ke bagian penjualan, dengan support dari berbagai departemen termasuk pengadaan barang dan mesin yang bisa diandalkan. Permintaan pasar harus selalu terpenuhi guna menjamin kepuasan pelanggan. Segala proses harus direncanakan dengan baik dan kemungkinan-kemungkinan hambatan harus terdeteksi dengan sesegera mungkin. Hal ini membuat berbagai aspek dalam departemen produksi harus terkontrol dengan baik.

Di tempat kerja saya saat ini ada berbagai parameter kinerja yang harus kita capai, yang biasa kita sebut KPI (Key Performance Index). Beberapa parameter tersebut antara lain adalah on hand (OH), yield, customer service, overall effectiveness equipment (OEE), cycle time, schedule attainment, first pass quality, dan complaint rate. Semua parameter tersebut harus kita kejar untuk selalu mencapai target untuk memastikan kinerja yang memuaskan.

Produksi memang lebih cenderung menekankan produktifitas, tapi kualitas merupakan sebuah komitmen yang juga harus menjadi DNA dalam bekerja. Hal ini tergambar dalam beberapa KPI seperti first pass quality dan complaint rate. First pass qualty dalam tempat saya bekerja diartikan sebagai dalam satu siklus proses produksi suatu produk tidak terdapat penyimpangan (deviasi) dalam bentuk apapaun, baik terhadap produk maupun dokumentasi sebelum produk di-release oleh quality. Adapun complaint rate menunjukkan bahwa konsumen puasa dengan produk yang sudah diedarkan (produk sudah di-release oleh quality). Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya komplain dalam bentuk apapun terkait produk sesuai spesifikasi yang dikeluarkan oleh pabrik.

Kualitas produk merupakan harga mati dalam sebuah bisnis, tanpa kualitas kesuksesan sebuah industri hanya akan menjadi euforia sesaat. Di sisi lain produk harus selalu tersedia di pasar sesuai kebutuhan sehingga sistem pembentukan kualitas produk juga tidak boleh menghambat proses produksi. Oleh karena itu perlu diperlukan kerja sama yang untuk saling support antar departemen, khususnya produksi dan quality. Pemahaman yang sama harus dimulai dari level terendah sehingga bisa berjalan beriringan dengan tetap menjaga independensi masing-masing departemen. Hal ini untuk menjamin quantity dan quality berjalan seefektif mungkin guna menopang bisnis yang sukses.

About Asyhar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: